HARI PANGAN SEDUNIA

HARI PANGAN SEDUNIA

Mochammad Maksum Machfoedz[1]

JUM’AT, 16 Oktober 2020, lebih dari 150 negara memperingati hari keramat yang sudah 75 tahun resmi menjadi hari keprihatinan dunia, dalam urusan perut manusia yang kemudian dikenal sebagai HPS, Hari Pangan Sedunia. Sejak organisasi pangan sedunia, FAO (Food and Agriculture Organization) dibentuk di Quebec City, Canada 75 tahun lalu, keprihatinan pangan senantiasa menjadi perhatian Global. Sebagai bagian dari FAO dan PBB, Indonesia tidak pernah ketinggalan senantiasa turut serta merayakannya. Perayaan HPS Indonesia tahun ini dipusatkan di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, dengan persiapan panjang.

Adalah Dr. Pal Romany, Menteri Pertanian dan Pangan Hongaria yang mengusulkan dalam Konferensi Umum ke-20 FAO di Roma, Nopember 1979, tentang penetapan dan perayaan World Food Day, untuk meningkatkan kepedulian dunia terhadap masalah kemiskinan dan kelaparan. Konferensi dimaksud kemudian mencetuskan Re­so­l­usi Nomor 179 yang disepakati se­mua negara anggota FAO. Sejak itulah, perayaan HPS diperingati oleh negara anggota mulai 1981. Food Comes First: Pangan adalah Utama, merupakan tema 1981. Mandat sektor pangan ini menjadi lebih mantap dengan pencanangan SDGs, Sustainable Development Goals, 2015, menggantikan MDGs, Millennium Development Goals. Pangan sangat relevan untuk dua target utama SDGs:  No Poverty & Zero Hunger, dunia tanpa kemiskinan dan tanpa kelaparan, 2030.

Semenjak 1981 perayaan HPS diadakan setiap tahun dengan tema sesuai situasi mendesak pada masanya dalam urusan pangan masyarakat dunia. Seperti tema tahun 2020 ini misalnya, sangat diwarnai oleh keprihatinan global akan musibah pandemi Covid-19, dan karenanya disepakati bersama untuk mengangkat tema penuh optimisme dan kesetiakawanan: “Grow, Nourish, Sustain: Together”, yang terjemahan lebih kurang: menanam aneka pangan, untuk jaminan pangan masyarakat, dalam keberlanjutan alam, bersama-sama multipihak.

Jelas sekali warna Covid-19 yang mengundang kebersamaan dalam mengarungi cobaan global ini, karena tidak satupun bisa tegak sendirian. Terlebih, ketika disadari bahwa sektor pangan terbukti merupakan sektor ekonomi yang tahan banting, ketika sektor perekonomian non-agro dalam keterpurukan serius, dan mengakibatkan resesi ekonomi di aneka belahan bumi, terutama negara industri yang berbasis ekonomi non pangan-pertanian.

Untuk kasus Indonesia sebetulnya kehebatan industri non-agro ini sudah lama diperingatkan bahayanya oleh banyak pihak karena berlebihan ketergantungannya terhadap import akibat pilihannya terlanjur terperangkap IBI, import-based industri yang hanya terpusat di Jakarta dan kota besar, tetapi diproteksi berlebihan dengan aneka kemudahan sejak menapak industrialisasi beberapa dekade lalu. Celakanya Proteksi IBI berlebihan ini ternyata sekaligus harus menganaktirikan sektor pedesaan-pertanian. Akibatnya: pertanian tidak lagi menarik bagi anak muda, kalau tidak boleh di katakan semakin menjijikkan bagi ABG, karena tidak memiliki janji ekonomi berarti.

Hari ini, ketika bangsa tercinta ini terperangkap dalam aneka resesi sektoral dengan menyisakan satu sektor saja yang tetap tumbuh yaitu sektor pertanian-pedesaan, maka sudah seharusnya pemikiran para penyelenggara negara pada tingkat manapun menjadi tersadar atas kesalahan yang selama ini menganaktirikannya, untuk bersegera kembali ke pedesaan dan pertanian karena janji sektoralnya tidak terbantahkan setiap kali negara dalam bencana ekonomi.

Untuk kesekian-kalinya pelajaran lapangan menunjukkan bahwa jutaan petani pedesaan pantas memperoleh apresiasi memadai. Semenjak tanam paksa, etiesche politiek, masa revolusi kemerdekaan, jaman HO, hingga krisis ekonomi mutakhir, 1997, 2013, sampai 2020, petani sebagai jutaan investor gurem senantiasa menjadi champion: menyelamatkan keluarga, manyelamatkan desa, dan bahkan negaranya dalam urusan krisis ekonomi yang super akut.

Jikalau dalam normalitas baru rekonstruksi perekonomian nasional para ahli ekonomi sekali lagi melalaikan, dan tidak memperhatikan prioritasi sektor pertanian-pedesaan, sebagai sumber pertumbuhan, sungguh tidak bisa diramalkan, cobaan apalagi kiranya yang akan diajarkan oleh sang Hyang Murbeng Dumadi setelah peringatan medisnya: “‘allamal insaana maa lam ya’lam”..   na’udzu billaah…

[1] GB Agroindustri UGM, Waketum PBNU dan Rektor UNUSIA Jakarta

Related Posts