Peduli Transisi Belajar Online, UNUSIA Jakarta Adakan Kuliah Umum dengan Tema Transformasi Pendidikan di Era 4.0

Jakarta – Senin (19/10/2020) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia Jakarta menyelenggarakan kuliah umum melalui Zoom Meeting untuk seluruh mahasiswa. Turut hadir Rektor UNUSIA Jakarta, Prof. Dr. Ir. H. M. Maksum Machfoedz, M.Sc. Kegiatan ini bertajuk “Transformasi Pendidikan di Era 4.0” tema ini bisa dikatakan sangat relevan dan penting bagi dosen dan mahasiswa yang saat ini tengah mengalami transisi pembelajaran ke arah pembelajaran berbasis tekonologi dan informasi. Keadaan ini tidak bisa kita hindari dan mutlak harus terjadi.

Oleh sebab itulah, UNUSIA Jakarta tidak tanggung-tanggung menghadirkan figur yang sudah sangat berpengalaman dan memiliki pretasi serta reputasi di kancah internasional. Di antaranya adalah Prof. Dr.-Ing Hendro Wicaksono yang merupakan Professor of Industrial Engineering Mathematics and Logistics di Jacobs University Bremen, Jerman. Kemudian Laily Hafidzah, kader NU tulen yang sudah melambungkan namanya dengan gelar Ph.D Candidate Western Sydney University di Australia. Terakhir hadir Muhammad Rodlin Billah, M.Sc. yang merupakan mahasiswa S3 bidang optika terpadu di Karlsruhe Institute of Technology (KIT) di Jerman.

Dalam kuliah umum, Prof Hendro menjelaskan edukasi selama perjalanan industri 4.0. misalnya dalam technical education mempunyai ciri khas no interdisciplinarity no innovation, adaptabilitty to rapid changes and lifes long learning, IT skilss are the key to survive.

Hal tersebut berimplikasi dengan jiwa keseharian pelajarnya dalam memimpin kehidupan sehari-hari menghadapi teman-temannya. Prof Hendro mengibaratkan Swarm yang mempunyai ciri unity of mission, leader provides the instuments, no ego and no blame, generosity of spirit and action, a foundation of trust based relationships.

Sementara itu, Muhammad Rodlin Billah menyebutkan jika Jerman lebih maju akan teknologi, salah satu faktornya adalah mempunyai peneliti tertingi dibanding dengan negara tetangganya. Sejauh ini, Indonesia juga belum melampaui karena peneliti yang kurang dan dana riset yang sangat minim. Padahal, teknologi dan tranformasi kemajuan itu terbentuk karena adanya sebuah penelitian yang melihat apa saja kekurangan dan kelebihan suatu negara.

Kepercayaan pemerintah terhadap pemuda juga sudah mulai harus ditingkatkan. Karena pemuda adalah sumber perubahan dunia yang sangat cepat. Untuk itu perlunya kajian lebih lanjut dan kerja sama yang optimal.

“Jangan merasa tidak percaya diri, inferioritas perlu dipecahkan oleh pemuda. Termasuk juga santri, tidak ada istilah beban moral untuk tidak percaya terhadap sains. Tidak ada pula konflik antara konflik agama dan sains. Jika terjadi, maka konflik tersebut justru akan menambah sumber untuk belajar,” imbuhnya lagi, “ Sains bersama agama itu bisa berjalan bersaa. Sains tanpa agama ya melempem. Sedangkan agama tanpa sains itu buta. Saya kira di masa depan khususnya, kita tidak lagi hanya paham ilmu agama, tapi juga harus paham teknologi.

Ungkapan tersebut dibenarkan oleh Laily Hafidzah. Saat ini Indonesia berada pada urutan 87 dari 127 negara yang mempunyai daya saing perguruan tinggi. Padahal masa sekarang adalah sumber masa depan yang dipenuhi oleh kreativitas.

Di akhir sesi closing statement, Prof Hendro mengatakan, “Walaupun teknologi selalu berubah dan terus maju, yang kita fokuskan adalah tujuan dari belajar itu. Jadi teknologi sebagai improvement  kita belajar. Tetap fokus ke tujuan dan efektivitas belajar.

Dwi Putri, Mahasiswa Psikologi UNUSIA Jakarta.

Related Posts