Rector's Speech
Messages and directions from the leadership of Nahdlatul Ulama Indonesia University in realizing a superior generation with noble morals.
Dr. Fariz Alnizar
Rektor UNUSIA
"Unusia Masa Depan: Akselerasi, Kolaborasi, Transformasi"
Unusia memasuki fase baru. Dunia berubah dengan kecepatan yang tidak selalu dapat kita prediksi. Teknologi mengubah cara manusia belajar dan bekerja, kecerdasan artifisial mengubah lanskap pengetahuan, ekonomi bergerak semakin cair, dan masyarakat menghadapi persoalan yang semakin kompleks. Dalam situasi seperti ini, perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi tempat untuk memindahkan pengetahuan. Universitas harus menjadi kekuatan yang ikut membentuk masa depan.
Karena itu, arah Unusia ke depan bertumpu pada tiga kata: akselerasi, kolaborasi, dan transformasi.
Akselerasi berarti kita tidak boleh bergerak dengan kecepatan kemarin untuk menghadapi tantangan hari esok. Kita perlu mempercepat penguatan akademik, kualitas sumber daya manusia, inovasi pembelajaran, tata kelola, digitalisasi, serta jejaring nasional dan internasional. Tetapi akselerasi bukan sekadar bergerak cepat. Ia harus memiliki arah yang jelas: menjadikan Unusia semakin unggul, relevan, dan memberi manfaat.
Akselerasi juga tidak berarti mengejar semua hal sekaligus. Universitas harus memiliki keberanian untuk memilih. Apa yang menjadi kekuatan kita harus diperkuat; apa yang sudah tidak relevan harus diperbarui; dan apa yang belum kita miliki harus dibangun melalui kerja sama.
Unusia itu, kata kedua adalah kolaborasi.
Unusia tidak mungkin membangun masa depan sendirian. Kampus harus membuka pintu selebar-lebarnya kepada pesantren, pemerintah, dunia usaha, industri, komunitas, organisasi masyarakat sipil, perguruan tinggi lain, dan berbagai kelompok masyarakat. Kita perlu mengubah cara pandang bahwa masyarakat bukan sekadar objek pengabdian. Masyarakat adalah mitra pengetahuan.
Community Development University berarti menjadikan kampus sebagai pusat pengembangan masyarakat berbasis pengetahuan. Ilmu tidak boleh berhenti di ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, atau jurnal akademik. Ilmu harus hadir dalam bentuk yang dapat dirasakan: peningkatan kualitas pendidikan, penguatan pesantren, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pengembangan kewirausahaan, inovasi sosial, penguatan kebudayaan, penyelesaian problem lingkungan, dan kebijakan publik yang lebih baik.
Karena itu, transformasi bukan pilihan tambahan. Ia adalah keniscayaan.
Transformasi tidak sekadar berarti mengganti sistem manual dengan digital. Transformasi berarti mengubah cara kita memahami universitas: bagaimana kita mendidik mahasiswa, bagaimana dosen menghasilkan dan menyebarkan pengetahuan, bagaimana penelitian dirancang, bagaimana pengabdian dilakukan, dan bagaimana kampus membangun hubungan dengan masyarakat.
Unusia harus menjadi universitas yang berakar kuat pada tradisi tetapi tidak terperangkap dalam romantisme masa lalu. Tradisi Ahlussunnah wal Jamaah harus menjadi energi intelektual untuk membaca perubahan, bukan alasan untuk menghindarinya. Khazanah Islam Nusantara harus dapat berdialog dengan ilmu pengetahuan modern. Pesantren harus bertemu dengan teknologi. Dan mahasiswa harus dipersiapkan bukan hanya untuk mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan pekerjaan, pengetahuan, dan perubahan.
Karena itu, ukuran kemajuan Unusia tidak cukup dilihat dari bertambahnya gedung, program studi, mahasiswa, atau lulusan. Semua itu penting, tetapi ukuran yang lebih mendasar adalah seberapa besar keberadaan Unusia membuat masyarakat menjadi lebih berdaya.
Saya membayangkan Unusia sebagai universitas yang tidak hanya teaching, tetapi juga connecting, empowering, dan transforming: menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan, memberdayakan masyarakat dengan keahlian, dan mengubah problem menjadi peluang.
Bergerak lebih cepat, bekerja lebih terbuka, berpikir lebih berani, dan memberi dampak lebih nyata.
Akselerasi. Kolaborasi. Transformasi.
Bukan sekadar slogan, melainkan tiga kata kerja untuk membawa Unusia menuju masa depan.
Sebab universitas yang besar bukanlah universitas yang paling banyak berbicara tentang dirinya sendiri. Universitas yang besar adalah universitas yang kehadirannya membuat masyarakat menjadi lebih berdaya.
Dr. Fariz Alnizar
Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia