Hasan Basri Dalami Khazanah Imam Bukhari dan Maturidi dalam Visiting Research di Uzbekistan
Humas Unusia
Content Writer
Uzbekistan — Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Mohammad Hasan Basri, Ph.D., melanjutkan rangkaian kegiatan akademiknya dalam program Visiting Research Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) di Uzbekistan. Bersama tiga delegasi lainnya, Hasan Basri menjalani penelitian sekaligus membangun jejaring akademik dengan sejumlah lembaga kajian Islam di negara tersebut.
Rangkaian penelitian berlangsung di sejumlah kota yang memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan keilmuan Islam, di antaranya Tashkent, Samarkand, dan Bukhara. Di Tashkent, para delegasi melakukan kegiatan akademik di Imam Maturidi International Scientific Research Center dan memperoleh fasilitas ruang kerja untuk mendukung proses penelitian.
Kegiatan kemudian berlanjut ke Samarkand melalui kunjungan ke Imam Bukhari International Scientific Research Center. Para delegasi mengikuti seminar ilmiah serta berdiskusi dengan para peneliti di lembaga tersebut. Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pertukaran pengetahuan dan jejaring akademik antara perguruan tinggi NU di Indonesia dengan institusi penelitian Islam di Uzbekistan.
Dalam rangkaian tersebut, Hasan Basri juga menelusuri khazanah yang berkaitan dengan fokus penelitiannya, “Reading Sahih al Bukhari Ecologically: Constructing the Concept of Eco-Sunnah.” Kajian ini menjadi bagian dari upayanya membaca Sahih al-Bukhari melalui perspektif ekologi serta menggali kemungkinan pengembangan konsep Eco-Sunnah dalam kajian keislaman kontemporer.
Setelah Samarkand, para delegasi melanjutkan agenda akademik ke Bukhara. Mereka berdiskusi dengan para peneliti di Bahouddin Naqshband Research Center untuk memperkaya pemahaman mengenai perkembangan tradisi intelektual Islam di Asia Tengah.
Selain agenda penelitian dan diskusi akademik, rangkaian Visiting Research juga diisi dengan kuliah tamu dan seminar. Para delegasi turut mengunjungi sejumlah situs yang berkaitan dengan sejarah keilmuan Islam, termasuk makam Imam al-Maturidi, Imam Abu Laits as-Samarkandi, Imam Bukhari, serta tujuh wali atau Haft Pir di Bukhara.
Rangkaian kegiatan tersebut mempertemukan proses penelitian dengan penelusuran langsung terhadap khazanah intelektual Islam di Asia Tengah. Bagi Hasan Basri, pengalaman akademik di sejumlah pusat kajian tersebut menjadi bagian dari proses memperkaya perspektif penelitian sekaligus membuka ruang bagi pengembangan jejaring akademik internasional.
Keterlibatan Hasan Basri dalam program ini turut memperkuat upaya Unusia dalam mendorong pengembangan riset dan kolaborasi akademik di tingkat internasional. Melalui pengalaman penelitian di Uzbekistan, khazanah keislaman klasik dapat terus dikaji dalam perspektif akademik yang relevan dengan perkembangan keilmuan masa kini.