Kaji Genealogi Pemikiran Gus Dur dalam Konstruksi Islam Nusantara, Amsar A. Dulmanan Gondol Gelar Doktor

Kaji Genealogi Pemikiran Gus Dur dalam Konstruksi Islam Nusantara, Amsar A. Dulmanan Gondol Gelar Doktor

News • 5 min read

Kaji Genealogi Pemikiran Gus Dur dalam Konstruksi Islam Nusantara, Amsar A. Dulmanan Gondol Gelar Doktor

Author avatar

Humas Unusia

Content Writer

Kaji Genealogi Pemikiran Gus Dur dalam Konstruksi Islam Nusantara, Amsar A. Dulmanan Gondol Gelar Doktor

Jakarta — Amsar A. Dulmanan, mahasiswa Program Doktoral Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Islam Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor, Jumat (25/9). Bertempat di Aula Jakoeb Oetama Unusia, Amsar mengangkat penelitian berjudul “Kuasa, Diskursus, dan Pluralisme: Susur Galur Pemikiran Abdurrahman Wahid dalam Konstruksi Islam Nusantara.” Atas hasil ujian tersebut, Amsar memperoleh nilai A.

Disertasi tersebut mengkaji pembentukan pemikiran Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dalam kaitannya dengan konstruksi Islam Nusantara melalui pendekatan genealogi Michel Foucault. Penelitian ini berangkat dari posisi Islam Nusantara sebagai salah satu wacana penting dalam diskursus keislaman di Indonesia, sekaligus melihat bahwa konstruksi historisnya masih terbuka untuk dikaji secara lebih kritis. Pemikiran Gus Dur dipilih karena perjalanan intelektualnya membentang dari lingkungan pesantren, dunia intelektual dan kebudayaan, kepemimpinan NU, hingga pengalaman sebagai negarawan.

“Islam Nusantara merupakan akumulasi diskursif dari lima fase perjalanan pemikiran Gus Dur, dengan relasi kuasa-pengetahuan dan pluralisme sebagai pilar utamanya.”

Melalui pendekatan kualitatif-historis berbasis genealogi Foucauldian, Amsar memetakan perjalanan pemikiran Gus Dur ke dalam lima fase. Fase tersebut meliputi fase santri (1940–1963), fase intelektual (1963–1971), fase budayawan (1971–1984), fase kiai dan pemimpin NU (1984–1999), serta fase negarawan (1999–2009). Kelima fase tersebut menunjukkan perkembangan pemikiran Gus Dur yang terbentuk melalui perjumpaan antara tradisi pesantren, pemikiran Islam, kebudayaan, dinamika organisasi, hingga pengalaman bernegara.

Penelitian ini juga menemukan bahwa Islam Nusantara dapat dipahami sebagai sebuah formasi diskursif yang memiliki dimensi historis, relasional, dinamis, kontekstual, dan emansipatoris. Dalam konstruksi tersebut, Islam Nusantara tidak berdiri secara terpisah dari wacana lain, tetapi terus berinteraksi dengan Arabisme, sekularisme, nasionalisme, dan globalisme. Relasi kuasa-pengetahuan turut menjadi bagian penting dalam pembentukan dan perkembangan wacana tersebut, sementara pluralisme ditempatkan sebagai salah satu unsur yang memungkinkan Islam Nusantara berfungsi sebagai wacana emansipatoris.

Hasil penelitian tersebut menghasilkan kontribusi teoritis berupa model analisis genealogi Foucauldian untuk mengkaji tokoh-tokoh Islam di Indonesia, serta kontribusi konseptual melalui kerangka formasi diskursif Islam Nusantara. Penelitian ini juga memberikan perspektif yang dapat memperkaya pengembangan kajian Sejarah Peradaban Islam, termasuk dalam konteks pendidikan dan kebijakan keagamaan.

Ujian terbuka tersebut dipimpin Dr. Siti Nabilah, M.Pd. selaku ketua sidang dan Dr. Ayatullah, MA. sebagai sekretaris sidang. Adapun tim penguji terdiri atas Prof. Dr. H. Amin Nurdin, MA. dan Juri Ardiantoro, Ph.D., dengan Dr. Fariz Alnizar sebagai co-promotor serta Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, M.A. sebagai promotor.

Capaian ini menambah kontribusi akademik Unusia dalam pengembangan kajian Sejarah Peradaban Islam, khususnya melalui penelitian yang mengkaji pemikiran Islam Nusantara, genealogi intelektual, dan gagasan pluralisme dalam konteks Indonesia.