Menjadi Mahasiswa Bukan Sekadar Mengejar Gelar: Pesan Amsar A. Dulmanan untuk Unusian Muda
Humas Unusia
Content Writer
Menjadi mahasiswa seharusnya tidak berhenti pada urusan mendapatkan gelar. Ada perjalanan yang jauh lebih penting di baliknya: belajar memahami dunia, membaca realitas, mempertanyakan apa yang selama ini dianggap benar, dan menemukan cara agar pengetahuan dapat menghadirkan manfaat bagi kehidupan.
Perguruan tinggi mempertemukan seseorang dengan begitu banyak pengetahuan, gagasan, teori, dan perspektif. Namun, pengetahuan tidak pernah hadir di ruang yang kosong. Ia selalu berhadapan dengan realitas yang kompleks: manusia dengan pengalaman yang berbeda, masyarakat dengan tradisi dan persoalannya, serta perubahan zaman yang terus bergerak. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya mampu menghafal informasi. Ia perlu memiliki cara pandang yang membuatnya mampu membaca apa yang ada di balik sesuatu yang tampak.
Di sinilah nalar kritis menjadi penting. Mahasiswa perlu berani bertanya: mengapa sesuatu terjadi, siapa yang diuntungkan, siapa yang mungkin dirugikan, bukti apa yang mendukung sebuah kesimpulan, dan dari sudut pandang mana sebuah persoalan sedang dilihat. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan tanda bahwa seseorang selalu meragukan segala sesuatu, melainkan bentuk kesadaran bahwa realitas tidak selalu sesederhana yang terlihat.
Cara seseorang memandang dunia pada akhirnya turut menentukan bagaimana ia memperlakukan manusia di dalamnya. Ketika manusia hanya dipandang sebagai angka, statistik, objek penelitian, atau sekadar bagian dari sebuah sistem, ada sesuatu yang hilang dari ilmu pengetahuan: kemanusiaan. Ilmu yang kehilangan hubungan dengan manusia berisiko berubah menjadi sekadar alat. Bahkan ketika pengetahuan digunakan untuk kepentingan kekuasaan tanpa etika dan tanggung jawab, ia dapat menjelma menjadi instrumen dominasi.
Karena itu, ilmu semestinya kembali kepada manusia. Pengetahuan perlu ditempatkan dalam hubungan dengan kehidupan nyata, bukan hanya berhenti di ruang kelas atau dalam tumpukan referensi. Seorang mahasiswa perlu belajar mengamati sebelum menyimpulkan, mendengar sebelum menilai, memahami konteks sebelum memberikan penilaian, serta memeriksa berbagai perspektif sebelum merasa paling benar.
Proses tersebut membutuhkan metodologi. Bukan sekadar metode dalam pengertian teknis, tetapi cara untuk mendekati kenyataan dengan sikap yang jujur dan hati-hati. Masyarakat bukan benda mati yang dapat diperlakukan sesuka hati. Di dalamnya terdapat pengalaman, relasi, tradisi, pengetahuan, konflik, sekaligus perubahan. Karena itu, berbicara tentang masyarakat membutuhkan kesediaan untuk hadir, mendengar, dan memahami sebelum merasa berhak berbicara atas nama mereka.
Bagi mahasiswa yang tumbuh dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, cara membaca realitas tersebut menemukan relevansinya dalam nilai-nilai tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i‘tidal. Nilai-nilai tersebut bukan sekadar identitas, melainkan dapat menjadi cara untuk membangun sikap intelektual.
Tawassuth mengajarkan keseimbangan dan menjauhkan diri dari sikap ekstrem. Tawazun mengajak seseorang untuk mampu menimbang berbagai hal: teks dan konteks, tradisi dan perubahan, kebebasan dan tanggung jawab, kepentingan individu dan kepentingan sosial, hingga perkembangan teknologi dan martabat manusia. Tasamuh mengingatkan bahwa perbedaan merupakan bagian dari kehidupan bersama sehingga mendengar dan memahami menjadi penting sebelum menghakimi. Sementara i‘tidal menuntun seseorang untuk berdiri di atas keadilan, bukan hanya ketika keadilan itu menguntungkan kelompoknya sendiri.
Pada titik ini, menjadi mahasiswa berarti belajar membangun hubungan antara pengetahuan dan etika. Sebab ilmu tanpa etika dapat berubah menjadi kekuasaan, sementara kekuasaan tanpa tanggung jawab dapat melahirkan penindasan. Karena itu, kecakapan intelektual perlu berjalan bersama karakter, adab, dan kesadaran terhadap dampak dari setiap pengetahuan yang dimiliki.
Mahasiswa idealnya bukan hanya seseorang yang mampu menyampaikan argumentasi, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan argumentasinya. Ia terbuka terhadap perspektif baru, tetapi tidak kehilangan pijakan. Ia kritis, tetapi tidak kehilangan adab. Ia mampu berbeda pendapat tanpa harus merendahkan. Ia mampu menerima perubahan tanpa memutus hubungan dengan tradisi.
Gagasan tentang ilmu, nalar, dan pengabdian tersebut berangkat dari sebuah refleksi yang disampaikan Amsar A. Dulmanan, Dosen Sosiologi sekaligus Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), melalui puisi yang ia bacakan pada penghujung PKKMB Unusia 2026.
Di tengah momentum ketika mahasiswa baru sedang memasuki babak baru kehidupannya, puisi tersebut menjadi ajakan untuk melihat perkuliahan dengan cara yang lebih luas: bukan semata-mata perjalanan menuju gelar, melainkan proses untuk membentuk cara berpikir, membaca realitas, dan menemukan makna kehadiran ilmu di tengah masyarakat.
Puisi berjudul “Ilmu, Nalar,dan Jalan Pengabdian” itu pada akhirnya membawa satu gagasan besar: pendidikan tidak boleh berhenti pada pengetahuan. Informasi perlu diolah menjadi ilmu, ilmu diterjemahkan menjadi praksis, dan praksis diarahkan pada kemaslahatan. Dari sana, pendidikan diharapkan melahirkan kesadaran baru tentang siapa manusia, bagaimana ia hidup bersama orang lain, dan untuk apa pengetahuan yang dimilikinya digunakan.
Menjadi mahasiswa, dengan demikian, adalah perjalanan untuk terus belajar menjadi manusia. Belajar berpikir dengan ilmu, membaca realitas secara kritis, bertindak dengan adab, berakar pada tradisi, terbuka terhadap perubahan, dan hadir untuk kehidupan di sekitarnya.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan tidak hanya terletak pada gelar yang berhasil diraih, tetapi juga pada apa yang dilakukan seseorang dengan pengetahuan yang telah ia miliki.
Agar ilmu tidak kehilangan manusia.
Agar nalar tidak kehilangan etika.
Dan agar perjalanan menjadi mahasiswa benar-benar menemukan jalan pengabdiannya.