Terjunkan Ratusan Mahasiswa KKN Membangun Desa Gelombang II, Unusia Dorong Pengabdian Berkelanjutan

Terjunkan Ratusan Mahasiswa KKN Membangun Desa Gelombang II, Unusia Dorong Pengabdian Berkelanjutan

News • 5 min read

Terjunkan Ratusan Mahasiswa KKN Membangun Desa Gelombang II, Unusia Dorong Pengabdian Berkelanjutan

Author avatar

Humas Unusia

Content Writer

Terjunkan Ratusan Mahasiswa KKN Membangun Desa Gelombang II, Unusia Dorong Pengabdian Berkelanjutan

Bogor — Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) menerjunkan 156 mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Membangun Desa Gelombang II. Upacara penerjunan berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di Aula Lantai 1 Gedung Laboratorium Unusia, Parung, Bogor. Program ini menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, dengan mendorong mahasiswa menerapkan ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan dan kebutuhan warga desa.

Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unusia, Syahadah Albaqiyatul Karimah, dalam laporannya menyampaikan bahwa KKN Gelombang II diikuti 156 mahasiswa dari empat fakultas dan delapan program studi. Para mahasiswa akan ditempatkan di delapan desa yang tersebar di enam kecamatan, dengan pendampingan delapan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Program ini berlangsung pada 17 Oktober hingga 14 Desember 2026.

Syahadah mengingatkan mahasiswa untuk menjaga nama baik almamater, melaksanakan program kerja dengan sungguh-sungguh, serta menjaga kekompakan, kedisiplinan, dan kesehatan selama menjalankan pengabdian. Ia berharap pengalaman KKN dapat menjadi proses pembelajaran yang membentuk karakter mahasiswa sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat. “Terus belajar dan bermanfaat, semoga KKN menjadikan kalian insan yang lebih baik,” pesannya.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unusia, Fatkhu Yasik, menegaskan bahwa KKN merupakan bagian penting dari proses pendidikan yang mempertemukan mahasiswa dengan kehidupan nyata masyarakat. Mahasiswa tidak hanya menerapkan pengetahuan dari ruang kuliah, tetapi juga belajar dari pengalaman dan keahlian masyarakat untuk menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi.

“Jadikan pengabdian ini sebagai pembelajaran, jadikan diri kita di masyarakat sebagai problem solver, dan teman belajar kalian adalah masyarakat,” ujar Fatkhu.

Ia menekankan bahwa keberhasilan KKN tidak hanya diukur dari terlaksananya program selama masa penempatan, tetapi juga dari keberlanjutan manfaatnya setelah mahasiswa kembali ke kampus. Karena itu, program perlu dirancang bersama masyarakat, berangkat dari aspirasi warga, dan melibatkan mereka secara aktif.

“Kalau kalian sudah pulang, program itu jangan sampai mati. Kalau mati, berarti kalian hanya menjadi Sinterklas dan panitia musiman,” tegasnya.

Fatkhu juga mengingatkan bahwa persoalan yang ditemukan mahasiswa selama KKN dapat menjadi bahan penelitian ilmiah untuk menghasilkan gagasan dan solusi yang relevan bagi masyarakat. Ia berharap mahasiswa memanfaatkan masa pengabdian sebaik-baiknya sekaligus menjaga nama baik Unusia.

Dukungan terhadap pelaksanaan KKN disampaikan Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Analis Pemanfaatan IPTEK Ahli Pertama, Iya Mulia, S.E., yang mewakili Kepala Badan Perencanaan, Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Bogor. Ia menyambut baik program KKN Membangun Desa sebagai bentuk kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat untuk menghadirkan program yang sesuai dengan kebutuhan warga serta mendukung pembangunan desa.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Bogor, Hari Azharul Akbar, S.H., M.H., mengingatkan mahasiswa untuk meminta doa orang tua, menggali potensi diri, dan mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan. Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Bogor, Abdul Somad, S.I.P., menekankan pentingnya menjaga adab, menghormati masyarakat setempat, serta mendengarkan kebutuhan warga dalam merancang program pengabdian. Ia berharap KKN tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu meninggalkan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Dari sisi pendampingan, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Membangun Desa Gelombang II dari Program Studi Tadris Bahasa Inggris Unusia, Sheila Wijayanti, menekankan pentingnya kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan perangkat desa. Menurutnya, mahasiswa perlu memastikan program yang dirintis tidak berhenti setelah masa pengabdian berakhir.

“Sebagai DPL, saya ingin mendorong mahasiswa agar tidak sekadar menjalankan program kerja selama masa KKN, tetapi juga mampu membangun kolaborasi dengan masyarakat dan perangkat desa serta menghasilkan kegiatan yang memiliki nilai keberlanjutan,” ujar Sheila.

Ia mencontohkan, mahasiswa dapat bekerja sama dengan karang taruna untuk membentuk tim pengembangan pembelajaran bahasa Inggris secara rutin. Dengan demikian, kegiatan tersebut dapat terus berjalan melalui keterlibatan pemuda dan masyarakat setempat meskipun masa KKN telah selesai. Sheila juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua LPPM, sekretaris, dan seluruh panitia atas kerja sama dalam mewujudkan program KKN Unusia.

Harapan terhadap keberlanjutan program juga disampaikan Selly Adinda, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Unusia. Ia berharap KKN menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Harapan saya, semoga program KKN yang telah diluncurkan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang telah dipelajari selama perkuliahan,” ujar Selly.

Ia juga berharap program KKN ke depan terus dikembangkan melalui kegiatan yang inovatif, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sehingga dampaknya tetap dirasakan meskipun masa penugasan mahasiswa telah berakhir.

Upacara penerjunan ditandai dengan penyematan atribut KKN secara simbolis oleh perwakilan pimpinan dan undangan. Melalui KKN Membangun Desa Gelombang II, Unusia mendorong mahasiswa mengintegrasikan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat, memperkuat kolaborasi, dan menghadirkan program pemberdayaan yang berkelanjutan. Pengalaman ini diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk tumbuh sebagai insan akademik yang berintegritas dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.