Unusia Gelar Diskusi Kabla Muktamar Bahas Transformasi dan Otoritas Pesantren NU

Unusia Gelar Diskusi Kabla Muktamar Bahas Transformasi dan Otoritas Pesantren NU

News 5 min read

Unusia Gelar Diskusi Kabla Muktamar Bahas Transformasi dan Otoritas Pesantren NU

Author avatar

Humas Unusia

Content Writer

Unusia Gelar Diskusi Kabla Muktamar Bahas Transformasi dan Otoritas Pesantren NU

Jakarta – Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) kembali menyelenggarakan Serial Diskusi Pemikiran Kabla Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Sabtu (1/8). Diskusi ketiga ini mengangkat tema "Masihkah Pesantren Menjadi Jantung NU? Tradisi, Otoritas, dan Transformasi Pendidikan Islam", sebagai ruang refleksi terhadap posisi strategis pesantren di tengah perubahan sosial, perkembangan pendidikan, dan dinamika organisasi NU.

Kegiatan menghadirkan K.H. Mujib Qulyubi, Wakil Rektor Bidang Akademik, Riset, dan Pengabdian kepada Masyarakat Unusia Fatkhu Yasik, Filolog Islam Nusantara Ahmad Ginanjar Sya'ban, serta Dosen Fakultas Islam Nusantara Unusia Idris Masudi. Para narasumber membahas berbagai tantangan yang dihadapi pesantren, mulai dari regenerasi kepemimpinan, transformasi sistem pendidikan, hingga pentingnya menjaga kemandirian lembaga.

Dalam paparannya, K.H. Mujib Qulyubi menyoroti pentingnya menjaga otoritas keilmuan dalam proses regenerasi kepemimpinan pesantren. Menurutnya, kepemimpinan tidak cukup hanya bertumpu pada faktor keturunan, tetapi juga harus ditopang oleh kapasitas keilmuan agar kualitas pendidikan pesantren tetap terjaga. Ia juga mengkritisi fenomena pesantren yang menggabungkan berbagai model pendidikan tanpa arah yang jelas sehingga berpotensi melemahkan pendalaman keilmuan. Karena itu, ia mendorong pesantren untuk mempertegas identitas dan fokus pengembangannya sesuai visi yang dimiliki.

Sementara itu, Fatkhu Yasik menjelaskan bahwa dalam perkembangan organisasi modern, pesantren tetap memegang peran penting sebagai sumber nilai atau core value bagi berbagai institusi Nahdlatul Ulama, seperti perguruan tinggi, rumah sakit, maupun lembaga ekonomi. Menurutnya, NU perlu memperkuat seluruh subsistem tersebut agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin beragam tanpa melepaskan nilai-nilai kepesantrenan yang menjadi fondasinya.

Perspektif historis disampaikan Ahmad Ginanjar Sya'ban yang mengingatkan bahwa ulama Nusantara pernah menjadi rujukan dunia Islam pada abad ke-16 hingga ke-17. Ia menilai tradisi intelektual pesantren masih memiliki potensi besar untuk berkontribusi di tingkat internasional. Karena itu, diperlukan peran akademisi dan lembaga pendidikan tinggi untuk menjembatani gagasan-gagasan keilmuan pesantren agar lebih dikenal dalam percaturan global.

Adapun Idris Masudi menyoroti pentingnya menjaga independensi pesantren di tengah perkembangan regulasi pendidikan. Menurutnya, penguatan sistem pendanaan berbasis wakaf dan kemandirian lembaga menjadi salah satu langkah strategis agar pesantren tetap memiliki keleluasaan dalam mengembangkan kurikulum sesuai karakter dan tradisi keilmuannya.

Melalui diskusi ini, para narasumber dan peserta sepakat bahwa transformasi pesantren merupakan sebuah keniscayaan. Namun demikian, perubahan tersebut harus tetap berpijak pada nilai-nilai utama pesantren, seperti tafaqquh fiddin, keikhlasan, sanad, dan barakah, sehingga pesantren dapat terus menjalankan perannya sebagai pusat pembentukan karakter, pengembangan ilmu, serta penjaga tradisi intelektual Nahdlatul Ulama.