Dekan FIN Unusia Ahmad Suaedy Luncurkan Buku tentang Islam, Konflik, dan Transformasi Politik Asia Tenggara di BRIN
Humas Unusia
Content Writer
Jakarta – Dekan Fakultas Islam Nusantara (FIN) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Ahmad Suaedy, turut meluncurkan buku Islam, Conflict, and Political Transformation in Southeast Asia dalam peluncuran perdana yang digelar di Ballroom BRIN Gatot Subroto, Jakarta, Senin (10/8). Buku yang dieditori Ahmad Suaedy, James B. Hoesterey, Amin Mudzakkir, dan Ahmad Nuril Huda tersebut membahas dinamika Islam, konflik, serta transformasi politik di kawasan Asia Tenggara.
Dalam peluncuran tersebut, Ahmad Suaedy menceritakan proses panjang di balik lahirnya buku yang berangkat dari gagasan kolektif mengenai kajian Islam in Southeast Asia. Proses tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga tahun, mulai dari penyusunan program dan proposal, diskusi intensif bersama sesama editor dan peneliti BRIN, pemilihan kontributor, penyusunan book chapter, hingga proses penyuntingan dan penerbitan.
“Kalau buku ini terbit 2026, maka butuh waktu proses setidaknya tiga tahun. Mulai dari penyusunan program atau proposal dengan diskusi yang cukup intensif, baik dengan sesama editor maupun dengan teman-teman di BRIN dan lainnya,” ujar Ahmad Suaedy.
Ia menjelaskan, buku ini tidak melihat transformasi politik hanya sebagai perubahan pada tingkat kelembagaan. Transformasi politik juga dilihat dari bagaimana perubahan tersebut berimplikasi terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari. Perspektif tersebut kemudian dipertemukan dengan pembahasan mengenai Islam, konflik, dan perdamaian di kawasan Asia Tenggara.
Salah satu gagasan utama buku ini adalah melihat Islam sebagai kekuatan sosial yang dapat hadir di ruang publik untuk mendorong perdamaian, dialog, dan resolusi konflik. Ahmad Suaedy menegaskan, Islam dalam buku tersebut tidak ditempatkan semata-mata dalam pengertian akidah, tetapi juga sebagai praktik sosial dan spiritual dalam realitas masyarakat yang plural dan multikultural.
“Fenomena agama Islam, masuk ke ruang publik sebagai driving force perdamaian, dialog, resolusi konflik. Islam di sini diartikan bukan dalam pengertian akidah, melainkan dalam praktik sosial dan spiritual,” jelasnya.
Menurut Ahmad Suaedy, perspektif tersebut sekaligus memperluas pemahaman mengenai konflik agama. Konflik tidak hanya dimaknai sebagai pertentangan antaragama atau antarsekte dalam agama, tetapi juga mencakup berbagai dimensi seperti kekuasaan, perebutan tanah, konflik militer, maupun konflik antaretnis, sejauh agama terlibat di dalamnya.
“Di sini konflik agama diberi pengertian konflik dalam banyak dimensi, kekuasaan, perebutan tanah, militer, antar-etnis dan sebagainya sejauh agama ikut terlibat, seberapa pun kecil atau besarnya,” katanya.
Ia menambahkan, pemahaman yang lebih luas tersebut juga berlaku dalam melihat resolusi konflik. Penyelesaian konflik agama tidak cukup hanya ditempuh melalui pendekatan teologis, spiritual, atau tradisi, tetapi juga perlu melihat kompleksitas sosial dan politik yang melingkupinya.
Melalui buku Islam, Conflict, and Political Transformation in Southeast Asia, para editor dan penulis berupaya menghadirkan perspektif mengenai bagaimana Islam dapat berkontribusi dalam menghadapi kompleksitas konflik sekaligus membangun perdamaian di Asia Tenggara. Peluncuran buku ini diharapkan menjadi sarana diseminasi hasil kajian sekaligus memperkaya diskursus mengenai Islam, keberagaman, konflik, dan transformasi politik di kawasan.