Kaji Cimande sebagai Tradisi Pengobatan dan Jaringan Spiritual, Asep Awaludin Gondol Doktor Islam Nusantara
Humas Unusia
Content Writer
Jakarta — Asep Awaludin, mahasiswa Program Studi Doktor Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Islam Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), dinyatakan lulus dengan hasil A dalam ujian terbuka disertasi yang berlangsung di Unusia Jakarta, Sabtu (19/9/2026). Dalam ujian tersebut, Asep mempertahankan disertasi berjudul “CIMANDE: Sejarah Pengobatan Tradisional dan Jaringan Spiritual dalam Masyarakat Jawa Barat.”
Penelitian ini mengkaji Cimande sebagai _living tradition_ atau tradisi yang terus hidup di tengah masyarakat. Asep tidak melihat Cimande semata sebagai teknik pengobatan tradisional maupun pencak silat, tetapi sebagai sistem budaya dan pengetahuan yang mempertemukan praktik pengobatan, ritual Islam, hubungan guru–murid, serta jaringan sosial masyarakat.
Penelitian yang dilakukan di Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, tersebut menggunakan pendekatan kualitatif dengan memadukan metode sejarah dan etnografi. Rentang kajiannya mencakup perkembangan tradisi Cimande pada abad ke-20 hingga abad ke-21, termasuk proses pewarisan pengetahuan dan praktik pengobatan yang berkembang di dalamnya.
Dalam praktik pengobatan, penelitian tersebut membahas proses anamnesis melalui komunikasi mengenai keluhan, pemeriksaan manual, identifikasi kondisi seperti patah atau retak tulang, pergeseran sendi, dan keseleo, hingga tindakan perawatan. Praktik tersebut berjalan berdampingan dengan dimensi spiritual yang menjadi bagian dari tradisi Cimande.
Aspek spiritualitas terlihat melalui praktik doa, shalawat, wirid, tawasul, _jangjawokan_ puasa, tirakat, dan tafakur. Unsur-unsur tersebut tidak hanya berkaitan dengan praktik keagamaan, tetapi juga berperan dalam pembentukan karakter dan legitimasi pengobat. Legitimasi juga dibangun melalui sistem sanad atau hubungan guru–murid yang diwariskan melalui disiplin, ijazah, dan keterhubungan dengan sejarah tradisi.
Penelitian Asep turut melihat kemampuan tradisi Cimande dalam menghadapi perubahan pada era modern. Pada abad ke-21, nilai-nilai seperti spiritualitas, etika, dan sanad tetap menjadi bagian penting dalam tradisi, sementara teknologi komunikasi dan media sosial digunakan sebagai sarana untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Ujian terbuka tersebut dipimpin oleh Dr. Ginanjar Sya'ban, M.Hum. selaku Ketua Sidang dan Dr. Ayatullah, M.Ud. sebagai Sekretaris Sidang. Juri Ardiantoro, M.Si., Ph.D. bertindak sebagai Promotor dan Dr. Fariz Alnizar, M.Hum. sebagai Co-Promotor. Sementara itu, Dr. Ngatawi Al Zastrouw, M.Si. dan Dr. Siti Nabilah, S.Sos.I., M.Pd. bertugas sebagai Penguji I dan Penguji II.
Ujian terbuka ini menjadi bagian dari proses akademik Program Doktor Sejarah Peradaban Islam Fakultas Islam Nusantara dalam mengembangkan kajian sejarah, kebudayaan, dan tradisi Islam Nusantara. Melalui kajian tentang Cimande, Unusia terus membuka ruang bagi penelitian yang melihat hubungan antara pengetahuan lokal, kehidupan masyarakat, dan dinamika tradisi di tengah perubahan zaman.