Unusia Gelar Diskusi Kabla Muktamar Ke-35 Bahas Transformasi NU di Abad Kedua

Unusia Gelar Diskusi Kabla Muktamar Ke-35 Bahas Transformasi NU di Abad Kedua

News 5 min read

Unusia Gelar Diskusi Kabla Muktamar Ke-35 Bahas Transformasi NU di Abad Kedua

Author avatar

Humas Unusia

Content Writer

Unusia Gelar Diskusi Kabla Muktamar Ke-35 Bahas Transformasi NU di Abad Kedua

Jakarta – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Sindikat Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) kembali membahas arah masa depan organisasi melalui Serial Diskusi Kabla Muktamar. Memasuki pertemuan keempat, diskusi difokuskan pada penyampaian dan pematangan rekomendasi yang telah dirumuskan dari tiga pertemuan sebelumnya.

Pertemuan tersebut secara khusus melibatkan para perempuan dan dosen di lingkungan Unusia untuk memberikan masukan terhadap hasil diskusi sebelumnya. Tiga tema besar yang telah dibahas meliputi transformasi otoritas dan tata kelola NU, pemenuhan janji sosial serta kesejahteraan warga, dan masa depan pesantren serta pendidikan. Dari rangkaian tersebut lahir 14 rekomendasi yang diharapkan dapat menjadi kontribusi pemikiran dalam Muktamar ke-35 NU.

Salah satu persoalan yang mendapat perhatian adalah bagaimana NU mengelola otoritas di tengah perubahan zaman. Perkembangan teknologi digital membuat produksi gagasan tidak lagi hanya berlangsung melalui struktur formal organisasi, tetapi juga melalui figur-figur dan ruang digital. Karena itu, akademisi mendorong pembenahan sistem organisasi melalui penguatan meritokrasi, digitalisasi tata kelola, serta penataan kembali fungsi AHWA agar tidak hanya aktif pada momentum pemilihan kepemimpinan.

Transformasi tersebut juga diarahkan pada hubungan NU dengan negara. NU dinilai perlu menjaga jarak yang sehat dari intervensi negara tanpa kehilangan peran strategisnya dalam kehidupan kebangsaan. Posisi yang ditawarkan bukan sekadar sebagai kelompok penekan, melainkan sebagai kekuatan yang mampu ikut membentuk kebijakan publik dan mendorong pembangunan yang berpihak pada masyarakat.

Pada saat yang sama, pembahasan menempatkan pesantren sebagai salah satu fondasi penting masa depan NU. Pesantren didorong untuk tetap menjaga tradisi keilmuan, namun sekaligus beradaptasi dengan kebutuhan baru. Pendidikan pesantren diharapkan mampu melahirkan ulama sekaligus sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM).

Penguatan pesantren tersebut kemudian dihubungkan dengan kebutuhan NU terhadap sumber daya manusia profesional. Perguruan tinggi NU, termasuk Unusia, dipandang memiliki posisi strategis sebagai ruang dialektika intelektual yang mempertemukan khazanah keislaman dengan ilmu pengetahuan modern. Dengan demikian, pesantren dan perguruan tinggi tidak hanya berfungsi menjaga tradisi, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem produksi pengetahuan untuk menghadapi tantangan abad kedua NU.

Melalui pertemuan keempat, rekomendasi yang telah disusun tidak hanya diposisikan sebagai dokumen gagasan, tetapi diharapkan dapat menjadi bahan yang dibawa ke forum utama Muktamar. Para akademisi Unusia menegaskan pentingnya mengambil bagian sebagai bagian dari NU dan memastikan gagasan yang telah dirumuskan dapat diimplementasikan untuk mendorong perbaikan organisasi ke depan.