Dosen Unusia Diundang Kedubes Tiongkok, Ikuti Diplomasi Akademik di Beijing dan Chongqing
Humas Unusia
Content Writer
Beijing – Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Roziqin, mengikuti kunjungan kebudayaan dan akademik alumni perguruan tinggi Tiongkok asal Indonesia ke Beijing dan Chongqing pada 10–16 Oktober 2026. Roziqin merupakan alumnus program doktoral Zhejiang University yang menyelesaikan pendidikannya pada 2019–2022. Kunjungan atas undangan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) ini diikuti 20 akademisi dan profesional Indonesia bergelar magister serta doktor untuk memperluas jejaring pengetahuan, mempelajari perkembangan inovasi, dan memperkuat hubungan Indonesia–Tiongkok.
Salah satu agenda di Beijing adalah pertemuan delegasi dengan Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok sekaligus Direktur Jenderal Press, Communication, and Public Diplomacy. Dalam kesempatan tersebut, delegasi menyerahkan dua buku yang membahas hubungan kedua negara, yakni 75 Tahun Indonesia-Tiongkok dan Indonesia-Tiongkok: Dari Akar Peradaban Berbuah Kemitraan. Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pertukaran pengetahuan dan perspektif mengenai hubungan bilateral melalui jalur akademik dan kebudayaan.
Selain agenda diplomasi, delegasi mengunjungi Pusat Pameran Kawasan Demonstrasi Inovasi Nasional Zhongguancun di Beijing, yang dikenal sebagai salah satu pusat inovasi teknologi Tiongkok. Di lokasi tersebut, para peserta mempelajari perkembangan teknologi, mulai dari kecerdasan buatan artificial intelligence atau AI, robot humanoid, kendaraan otonom, dan manufaktur presisi hingga teknologi kesehatan serta energi terbarukan. Kunjungan ini memberikan gambaran mengenai pengembangan ekosistem inovasi yang menghubungkan perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, dan industri.
Pembelajaran dari Zhongguancun juga relevan bagi perguruan tinggi Indonesia dalam memperkuat hilirisasi riset, kolaborasi lintas sektor, dan penerapan ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Pengembangan inovasi tidak hanya bergantung pada hasil penelitian, tetapi juga pada dukungan kebijakan, pendanaan, sumber daya manusia, serta jalur penerapan yang memungkinkan hasil riset memberikan manfaat nyata.
Rangkaian kunjungan berlanjut di Chongqing melalui agenda akademik di Southwest University, kunjungan ke Foreign Affairs Office of Chongqing Municipality dan Chongqing Planning Exhibition Gallery, serta diskusi dan jamuan makan malam bersama Fan Qing, Deputy Director General Foreign Affairs Office Chongqing Municipality. Agenda tersebut memperluas kesempatan delegasi untuk mengenal perkembangan akademik, tata kota, dan hubungan kelembagaan di wilayah tersebut.
Kunjungan ini melibatkan akademisi dan profesional Indonesia dari berbagai latar belakang, termasuk KH. Imron Hamid, Rektor Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang sekaligus Ketua PBNU; Budy Sugandi, Direktur Eksekutif Cendekia Madani dan Wasekjen GP Ansor; Muhammad Aziz, dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sekaligus pengurus PP Muhammadiyah; Syaifudin Zuhri, Direktur Sino Nusantara Institute dan PCINU Tiongkok; serta Arafat Febriandirza, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Keberagaman latar belakang delegasi mencerminkan keterlibatan unsur perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, dan lembaga riset dalam memperluas hubungan akademik serta pertukaran pengetahuan antara Indonesia dan Tiongkok.
Pengalaman Roziqin dalam kunjungan ini menjadi bagian dari keterlibatan akademisi Unusia dalam jejaring pengetahuan lintas negara. Latar belakang pendidikannya di Zhejiang University menjadi salah satu bekal untuk mengenal perkembangan pendidikan tinggi dan ekosistem inovasi di Tiongkok, sekaligus melihat peluang penerapan pengetahuan tersebut dalam pengembangan Tridharma perguruan tinggi.