Ketua Senat Unusia Ahmad Suaedy Bahas Konfusianisme dan Aswaja Nusantara di UIN Jakarta
Humas Unusia
Content Writer
Jakarta — Ketua Senat Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Ahmad Suaedy, menjadi salah satu narasumber dalam _Studium Generale_ bertema “Islam dan Confucianisme: Perspektif Hubungan Internasional” yang diselenggarakan Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Senin (26/10/2026). Dalam forum tersebut, ia membahas kebangkitan kembali spiritualitas dalam politik melalui perbandingan Konfusianisme di China dan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) Nusantara di Indonesia.
Melalui materi berjudul "Kebangkitan Kembali Spiritualitas dalam Politik: Confucianisme di China dan Aswaja Nusantara di Indonesia", Ahmad Suaedy menguraikan bagaimana nilai-nilai spiritual dan tradisi pemikiran kembali memperoleh tempat dalam ruang publik. Menurut analisis yang dipaparkannya, fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan kehidupan keagamaan, tetapi juga dengan tata kelola pemerintahan, kebijakan publik, dinamika masyarakat, dan diplomasi internasional.
Dalam pembahasannya mengenai China, Suaedy menjelaskan upaya mengintegrasikan nilai-nilai Konfusianisme ke dalam kehidupan modern. Nilai seperti meritokrasi, pemberantasan korupsi, inovasi teknologi, serta kesejahteraan dan kesetaraan ekonomi menjadi bagian dari etos sosial yang dibahas dalam presentasinya. Di ranah internasional, ia juga menyoroti harmoni dan perdamaian sebagai pesan Konfusianisme yang dapat mendukung diplomasi dan penguatan pengaruh China melalui pendekatan soft power.
Sementara itu, dalam konteks Indonesia, Suaedy menyoroti peran Aswaja Nusantara dalam membangun kehidupan kebangsaan dan masyarakat yang moderat. Nilai-nilai seperti tawassuth (moderat), tawazun (berimbang), dan i'tidal (keadilan), bersama komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, serta penerimaan terhadap budaya lokal, menjadi bagian penting dari pembahasannya. Ia juga menguraikan bagaimana nilai-nilai tersebut berinteraksi dengan sistem demokrasi dan kebijakan publik di Indonesia.
Meski memiliki perbedaan dalam sistem politik dan prioritas nilai yang dikembangkan, Suaedy melihat peluang untuk membangun kerja sama antara China dan Indonesia melalui tradisi spiritual masing-masing. Dalam kesimpulan materinya, ia menyoroti bahwa Konfusianisme di China lebih menekankan etos modernitas, inovasi, meritokrasi, dan kesetaraan ekonomi, sedangkan Aswaja Nusantara di Indonesia lebih menonjolkan toleransi, harmoni, dan hak-hak politik. Ia merekomendasikan penguatan kerja sama kedua negara untuk mendorong keseimbangan global yang berorientasi pada harmoni, keadilan, dan hubungan yang tidak eksploitatif.
Melalui pengembangan kajian keislaman dan penguatan tradisi akademik, Unusia terus mendorong pemikiran Islam Nusantara yang berakar pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, terbuka terhadap perkembangan zaman, serta berkontribusi bagi kehidupan masyarakat yang inklusif, damai, dan berkeadilan.