Upacara Hari Santri 2026, Rektor Tekankan Pentingnya Merawat Tradisi dan Ilmu
Humas Unusia
Content Writer
Bogor – Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) menggelar upacara peringatan Hari Santri Nasional 2026 di lapangan Gedung Laboratorium Unusia, Parung, Bogor, Kamis (22/10). Upacara yang diikuti sivitas akademika, mulai dari dosen, pengelola, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa, menjadi momentum untuk merefleksikan pentingnya tradisi keilmuan dan pengabdian kepada negeri.
Rektor Unusia, Dr. Fariz Alnizar, bertindak sebagai pembina upacara. Dalam amanatnya, ia mengajak seluruh peserta menjadikan Hari Santri sebagai momentum refleksi, bukan sekadar peringatan seremonial. Ia bersyukur atas terselenggaranya upacara tersebut dan berharap peringatan ini mendorong sivitas akademika untuk terus memperbaiki diri.
“Semoga Hari Santri ini bisa menjadi momentum untuk reflektif,” ujar Fariz.
Fariz juga mengaitkan peringatan Hari Santri pada 22 Oktober dengan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober. Menurutnya, kedua momentum tersebut menyimpan pelajaran tentang perjuangan dan pentingnya gagasan dalam membangun bangsa. Perjuangan tidak hanya dilakukan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui pemikiran yang mampu mendorong perubahan.
Ia mengajak sivitas akademika mengambil pelajaran dari kedua peringatan tersebut sebagai dorongan untuk menjadi lebih baik dan memberikan kontribusi bagi masyarakat. Nilai-nilai sejarah, menurutnya, perlu terus dihidupkan agar menjadi pijakan bagi generasi saat ini dalam menghadapi tantangan masa depan.
Dalam amanatnya, Fariz turut menekankan pentingnya merawat tradisi sebagai fondasi untuk melangkah ke depan. Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, hal tersebut antara lain diwujudkan melalui penjagaan sanad dan kesinambungan tradisi keilmuan. Tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan akar yang memberikan landasan bagi generasi berikutnya untuk berkembang.
“Merawat akar adalah merawat tradisi. Tradisi ini menjadi akar, dan akar ini menjadi basis kita sehingga kita punya landasan untuk bergerak ke depan,” ungkapnya.
Fariz juga mengingatkan pentingnya menghormati para pendahulu yang mewariskan ilmu serta orang-orang yang meneruskan proses pendidikan. Guru, dosen, pengajar, dan rekan sejawat memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan ilmu. Menghormati mereka menjadi bagian dari upaya merawat tradisi keilmuan agar terus hidup dan berkembang dari generasi ke generasi.
Selain menekankan pentingnya tradisi keilmuan, Fariz mengajak sivitas akademika memperkuat kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan. Ia mengajak seluruh peserta mendoakan agar kebakaran hutan di Indonesia segera padam dan masyarakat yang terdampak bencana dapat segera pulih.
Ia berharap masyarakat yang terdampak bencana dapat kembali menjalani kehidupan dengan baik, termasuk memperoleh kesempatan belajar seperti yang dinikmati sivitas akademika Unusia. Kepedulian terhadap sesama, menurut pesan yang disampaikannya, merupakan bagian dari pengabdian kepada negeri dan kemanusiaan.
Melalui peringatan ini, Unusia menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial. Merawat warisan ilmu dan berkhidmah kepada negeri menjadi dua hal yang saling melengkapi dalam membangun generasi yang berakar pada nilai, terbuka terhadap masa depan, dan hadir bagi kemanusiaan.