Rektor Unusia Paparkan Penguatan Tata Pamong dalam Workshop Mutu Lembaga Pendidikan NU

Rektor Unusia Paparkan Penguatan Tata Pamong dalam Workshop Mutu Lembaga Pendidikan NU

News • 5 min read

Rektor Unusia Paparkan Penguatan Tata Pamong dalam Workshop Mutu Lembaga Pendidikan NU

Author avatar

Humas Unusia

Content Writer

Rektor Unusia Paparkan Penguatan Tata Pamong dalam Workshop Mutu Lembaga Pendidikan NU

Tangerang Selatan — Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Fariz Alnizar, menjadi narasumber dalam Workshop Peningkatan Mutu Lembaga Pendidikan di Lingkungan Nahdlatul Ulama Kota Tangerang Selatan yang berlangsung di Junior Ballroom, ADIA Suites, Rabu (28/10). Dalam kegiatan tersebut, Fariz menyampaikan materi bertajuk Penguatan Tata Pamong dan Mutu Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama.

Dalam pemaparannya, Fariz menekankan bahwa peningkatan mutu perguruan tinggi harus dimulai dari tata pamong dan tata kelola kelembagaan yang sehat. Menurutnya, pemeringkatan bukanlah tujuan akhir, melainkan cerminan dari kualitas tata kelola yang dijalankan secara konsisten. Mutu perguruan tinggi, lanjutnya, dibangun melalui kepemimpinan yang baik, sistem penjaminan mutu yang berjalan, serta kinerja dan reputasi akademik yang terus dikembangkan.

Ia menjelaskan bahwa penguatan mutu perguruan tinggi bertumpu pada tiga aspek utama, yakni tata kelola, sistem penjaminan mutu, serta kinerja dan reputasi akademik. Ketiganya saling berkaitan, mulai dari kepemimpinan dan akuntabilitas kelembagaan, penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) melalui siklus Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan (PPEPP), hingga pengembangan riset, kualitas lulusan, akreditasi, dan reputasi institusi.

Fariz juga mengulas hasil pemeringkatan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) 2026 yang dilakukan LPTNU PBNU. Dari 284 perguruan tinggi dalam ekosistem NU yang dinilai, terdapat tujuh variabel penilaian, meliputi mahasiswa aktif, riset dan publikasi ilmiah, jabatan akademik dosen, reputasi akademik, aset dan ketahanan keuangan, capaian alumni, serta keterhubungan dengan NU. Menurutnya, indikator tersebut perlu dipahami sebagai agenda pembenahan tata kelola, bukan sekadar target pencapaian angka.

Lebih lanjut, Fariz memaparkan enam pengungkit penguatan tata kelola mutu, yaitu kepemimpinan dan kelembagaan, sistem penjaminan mutu, sumber daya manusia akademik, riset dan data, keuangan dan aset, serta jejaring dan alumni. Ia juga menekankan pentingnya prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan kewajaran yang harus diwujudkan dalam sistem serta kebiasaan kerja sehari-hari.

Sebagai contoh penerapan penguatan mutu, Fariz turut memaparkan capaian Unusia dalam pemeringkatan PTNU 2026. Unusia meraih peringkat pertama pada kategori Klaster Mandiri dengan skor 6,8173, sekaligus berada pada rentang peringkat 10–25 secara keseluruhan. Capaian tersebut menjadi salah satu gambaran pengembangan tata kelola dan kinerja kelembagaan di lingkungan perguruan tinggi NU.

Melalui forum tersebut, Fariz mendorong perguruan tinggi NU untuk membangun sistem pengelolaan yang berkelanjutan, memperkuat ekosistem riset, mengembangkan jenjang karier dosen, serta merawat jejaring dengan berbagai lembaga di lingkungan NU. Penguatan tata kelola diharapkan dapat menjadi fondasi bagi peningkatan mutu, reputasi, dan kepercayaan publik terhadap perguruan tinggi.