Unusia dan Madani Film Festival Angkat Jejak Perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari Lewat Film

Unusia dan Madani Film Festival Angkat Jejak Perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari Lewat Film

News • 5 min read

Unusia dan Madani Film Festival Angkat Jejak Perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari Lewat Film

Author avatar

Humas Unusia

Content Writer

Unusia dan Madani Film Festival Angkat Jejak Perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari Lewat Film

Jakarta – Perjuangan tidak selalu berhenti ketika seseorang kehilangan kebebasan. Gagasan justru dapat menyebar melampaui batas wilayah dan zaman, sebagaimana jejak Syekh Yusuf Al-Makassari, ulama Nusantara abad ke-17 yang pengaruhnya tetap hidup meski mengalami pengasingan. Kisah tersebut menjadi bahasan dalam pemutaran trailer dan diskusi film Syekh Yusuf Al-Makassari: _In the Blessing of Ceylon_ yang diselenggarakan Madani Film Festival bersama Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) di Aula Jakoeb Oetama, Jumat (9/10).

Naeni Amanulloh, Wakil Rektor Jejaring Inovasi dan Hubungan Kelembagaan Unusia, dalam sambutannya menyambut baik kolaborasi tersebut dan berharap forum ini menghadirkan manfaat bagi para peserta. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Madani Film Festival atas kerja sama yang terjalin dengan Unusia. Menurutnya, pemutaran dan diskusi film diharapkan tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membawa dampak bagi cara peserta memahami kehidupan dan persoalan masyarakat.

Setelah pemutaran trailer, sutradara Irvan Aulia menjelaskan alasan memilih Syekh Yusuf sebagai tokoh dokumenter. Ia melihat sosok ulama tersebut memiliki semangat perjuangan yang tidak mudah dibatasi oleh keadaan. Meski diasingkan, Syekh Yusuf tetap memberikan pengaruh melalui pemikiran dan karya intelektualnya.

“Di penjara tidak memberhentikan perjuangan, hanya bertransformasi perjuangan pemikiran,” demikian gagasan yang disampaikan Irvan dalam menjelaskan perjalanan Syekh Yusuf. Melalui film dokumenter, ia ingin menghadirkan cara lain bagi masyarakat untuk mengenal sosok dan warisan pemikiran ulama tersebut.

Pembahasan kemudian berlanjut pada jaringan keilmuan Syekh Yusuf bersama Dekan Fakultas Islam Nusantara (FIN) Unusia, Dr. Ginanjar Sya’ban. Ia menjelaskan bahwa pengaruh Syekh Yusuf tidak terbatas pada tanah kelahirannya di Gowa maupun kiprahnya di Nusantara. Jejak intelektualnya terhubung dengan berbagai pusat tradisi keilmuan, termasuk Timur Tengah dan Sri Lanka. Penelusuran terhadap guru, bacaan, serta tradisi intelektual yang memengaruhinya menjadi bagian penting untuk memahami keluasan wawasan dan otoritas keilmuan Syekh Yusuf pada masanya.

Inayah Wahid selaku dewan pengarah madani, mengaitkan perjalanan Syekh Yusuf dengan tema festival tahun ini, Rimpang. Menurutnya, rimpang menggambarkan pertumbuhan yang tidak hanya bergerak ke atas, tetapi juga menjalar ke berbagai arah dan menghasilkan manfaat luas. Ia memandang perjalanan Syekh Yusuf sebagai gambaran nyata dari gagasan tersebut: pengasingan tidak memutus pengaruhnya, melainkan membuat jejak pemikirannya menjangkau wilayah yang lebih luas.

“Badan boleh diisolasi, tapi gagasan bisa tembus ke mana-mana,” ujar Inayah.

Inayah juga menegaskan bahwa film tentang kehidupan Islam tidak semata-mata berbicara tentang ritual keagamaan, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai Islam hadir dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengajak peserta merefleksikan bagaimana pengetahuan dan praktik spiritual dapat diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menjawab persoalan sosial, ekonomi, politik, dan pendidikan. Melalui semangat rimpang, ia berharap tumbuh gerakan bersama yang membawa manfaat luas dan berorientasi pada keadilan sosial serta kesejahteraan umat.

Diskusi yang di moderatori Moh. Faiz Maulana, turut membuka ruang bagi mahasiswa untuk mempertanyakan bagaimana pemikiran seorang tokoh dapat terus hidup meskipun mengalami pengasingan. Pertukaran pandangan tersebut menempatkan kisah Syekh Yusuf bukan hanya sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga sebagai sumber refleksi tentang ketahanan gagasan, jaringan pengetahuan, dan tanggung jawab intelektual. Melalui kolaborasi ini, Unusia terus membuka ruang perjumpaan antara film, sejarah, dan pemikiran kritis untuk mendorong kontribusi nyata bagi masyarakat.