Unusia Perkuat Budaya Kerja Tenaga Kependidikan melalui Penguatan Integritas dan Pelayanan Prima

Unusia Perkuat Budaya Kerja Tenaga Kependidikan melalui Penguatan Integritas dan Pelayanan Prima

News • 5 min read

Unusia Perkuat Budaya Kerja Tenaga Kependidikan melalui Penguatan Integritas dan Pelayanan Prima

Author avatar

Humas Unusia

Content Writer

Unusia Perkuat Budaya Kerja Tenaga Kependidikan melalui Penguatan Integritas dan Pelayanan Prima

Jakarta – Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) memperkuat budaya kerja tenaga kependidikan melalui kegiatan Pembinaan dan Peningkatan Kapasitas Tenaga Kependidikan, Jumat (6/11). Mengangkat tema “Transformasi Budaya Kerja Tenaga Kependidikan melalui Penguatan Integritas, Empati, Kolaborasi, dan Pelayanan Prima di Perguruan Tinggi”, kegiatan ini menjadi ruang bagi tenaga kependidikan untuk memahami kembali peran dan kontribusinya dalam mendukung layanan pendidikan tinggi.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Kampus A Mahbub Djunaidi tersebut menghadirkan Dipo Satri Alam, Area Head Regional Office BRI Jakarta 1, sebagai pemateri utama. Turut hadir Niko Adiwena Perdana, Pemimpin Cabang BRI Jakarta Segitiga Senen, dan Winda Budi Nastiti, RM Funding Transaction. Dari pihak Unusia, kegiatan diikuti Rektor Dr. Fariz Alnizar, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Keuangan Dr. Fira Mubayyinah, serta seluruh tenaga kependidikan.

Dalam sambutannya, Fira menekankan bahwa pelayanan di lingkungan perguruan tinggi tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan administratif. Lebih dari itu, pelayanan juga membentuk pengalaman dan kesan yang dirasakan mahasiswa maupun sivitas akademika ketika berinteraksi dengan setiap unit kerja.

“Kita beruntung karena pelayanan yang kita berikan tetap melibatkan manusia dan tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh AI (artificial intelligence). Ada pengalaman, empati, dan sentuhan manusia yang perlu kita hadirkan dalam setiap pelayanan. Karena itu, kita perlu memikirkan pengalaman baik seperti apa yang akan kita berikan kepada seluruh sivitas akademika,” ungkap Fira.

Sementara itu, Fariz mengajak tenaga kependidikan untuk mengubah pola pikir dari sekadar menjalankan tugas administratif menjadi memberikan pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan. Menurutnya, pelayanan yang baik perlu menghadirkan kemudahan, kejelasan, serta solusi bagi mahasiswa dan sivitas akademika.

“Mahasiswa membutuhkan pelayanan yang memudahkan dan memberikan kejelasan. Ketika mereka menghadapi suatu kebutuhan, kita perlu membantu mengarahkan langkah-langkah yang bisa ditempuh dan memberikan alternatif solusi. Karena itu, kita perlu mengubah pola pikir dari sekadar administratif menjadi service mindset” ujar Fariz.

Memasuki sesi utama, Dipo Satri Alam membahas pentingnya membangun budaya kerja melalui kebiasaan dan perilaku yang diterapkan dalam aktivitas sehari-hari. Menurutnya, budaya kerja tidak cukup dibentuk melalui aturan dan prosedur, tetapi perlu tercermin dalam cara setiap individu menjalankan tanggung jawab, berinteraksi, serta memberikan pelayanan.

Ia juga menekankan bahwa perubahan budaya kerja perlu dimulai dari diri sendiri. Setiap tenaga kependidikan memiliki peran dalam membangun lingkungan kerja yang positif, menyelaraskan perilaku individu dengan tujuan organisasi, serta memperkuat kolaborasi antarunit kerja. Selain itu, kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan.

Setelah sesi pembinaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan analisis jabatan oleh Fira Mubayyinah. Sesi ini membahas peran dan tanggung jawab masing-masing posisi di lingkungan kerja Unusia sebagai bagian dari upaya memperjelas pelaksanaan tugas dan mendukung efektivitas organisasi.

Salah satu peserta, Novita Ayu Nur Maulidah, Staf Keuangan, menilai pembinaan tersebut memberikan materi yang bermanfaat bagi tenaga kependidikan. Ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin dengan metode penyampaian yang semakin bervariasi.

“Materinya sangat bagus dan pematerinya juga luar biasa. Saya berharap kegiatan seperti ini bisa dilakukan secara rutin. Mungkin ke depannya metode penyampaian materi bisa lebih bervariasi, misalnya dengan menyisipkan ice breaking” ungkap Novita.

Sementara itu, Abdul Ghofur, Manajer IT, menilai pembinaan tersebut dapat menjadi motivasi bagi tenaga kependidikan untuk terus meningkatkan kualitas diri dan membangun budaya kerja yang lebih baik. Menurutnya, perubahan budaya kerja membutuhkan proses dan pembinaan yang berkelanjutan.

“Pelatihan ini cukup baik untuk memotivasi kita agar menjadi lebih baik dan menciptakan budaya kerja yang lebih positif. Namun, membangun budaya kerja tentu membutuhkan proses. Saya berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus dilanjutkan dengan pembinaan lain yang dapat menambah semangat tenaga kependidikan,” ujar Ghofur.

Melalui kegiatan ini, Unusia mendorong tenaga kependidikan untuk menerapkan nilai integritas, empati, kolaborasi, dan pelayanan prima dalam pekerjaan sehari-hari. Penguatan kapasitas tersebut diharapkan menjadi bagian dari proses membangun budaya kerja yang lebih adaptif, profesional, dan berorientasi pada peningkatan kualitas layanan pendidikan.