Search

Angkat Kerangka McKinsey 7S untuk Pendidikan Inklusif, Elis Lisyawati Gondol Gelar Doktor

Bandung – Elis Lisyawati resmi meraih gelar Doktor Ilmu Pendidikan usai menjalani Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Doktor (S3) Ilmu Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Nusantara (UNINUS), Rabu (17/6). Sidang yang berlangsung di Aula Pascasarjana UNINUS tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. H. Hanafiah, M.M.Pd. selaku Ketua Sidang dengan menghadirkan tim promotor dan penguji dari kalangan akademisi.

Dalam sidang tersebut, Elis mempertahankan disertasinya yang berjudul Analisis Implementasi Kerangka McKinsey 7S dalam Strategi Kepala Sekolah untuk Peningkatan Mutu Pendidikan Inklusif. Penelitian tersebut merupakan studi kasus yang dilakukan di SD Madania Parung, Elementary School of Universe (SOU) Parung, dan SD Islam Plus Daarul Jannah Pakansari, Kabupaten Bogor.

Penelitian ini berangkat dari masih adanya kesenjangan antara kebijakan dan implementasi pendidikan inklusif di Indonesia. Melalui pendekatan kualitatif, Elis menganalisis bagaimana strategi kepala sekolah dalam menyelaraskan tujuh elemen organisasi dalam kerangka McKinsey 7S, yakni strategy, structure, systems, staff, skills, style, dan shared values, guna peningkatan mutu layanan pendidikan inklusif.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif tidak hanya ditentukan oleh keberadaan sumber daya atau kebijakan semata, melainkan oleh keselarasan seluruh elemen organisasi sekolah. Kepemimpinan transformasional kepala sekolah, pemberdayaan tenaga pendidik, budaya sekolah yang inklusif, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam menciptakan layanan pendidikan yang adaptif dan berkelanjutan.

Sebagai kebaruan (novelty), Elis memperkenalkan Model B.E.R.K.A.H (Balanced, Empathetic, Responsive, Knowledge-driven, Accountable, Humanistic). Model ini mengintegrasikan kerangka McKinsey 7S dengan kepemimpinan transformasional dan nilai-nilai humanistik-spiritual sebagai strategi implementatif bagi kepala sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan inklusif. Model tersebut diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan.

Sidang promosi doktor ini dibimbing oleh Prof. Dr. H. Iim Wasliman, M.Pd., M.Si. sebagai Promotor, didampingi Dr. H. R. Supyan Sauri, M.M.Pd. selaku Ko-Promotor, serta Dr. Abdul Holik, M.M.Pd. sebagai anggota tim promotor. Sementara itu, Dr. Helmawati, M.Pd.I. bertindak sebagai penguji dalam dan Dr. Abdul Mukti Ro'uf, M.A. sebagai penguji luar.

Keberhasilan Elis Lisyawati meraih gelar doktor sekaligus memperkaya khazanah penelitian di bidang manajemen pendidikan, khususnya mengenai strategi kepemimpinan sekolah dalam mewujudkan pendidikan inklusif yang berkualitas. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi kepala sekolah, pengambil kebijakan, dan praktisi pendidikan dalam mengembangkan tata kelola sekolah yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada pemenuhan hak belajar seluruh peserta didik.