Kepercayaan untuk mengisi kegiatan keagamaan di lingkungan perwakilan resmi negara merupakan amanah yang tidak ringan. Bagi Muhamad Hasymi Hadromi, alumni Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Unusia lulusan 2024, kesempatan tersebut menjadi pengalaman perdana yang sarat makna.
Pada 20 Februari hingga 1 Maret 2026, Hasymi mendapat amanah untuk mengisi rangkaian kegiatan Ramadhan di Masjid Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura. Dalam kegiatan tersebut, ia bertugas sebagai muadzin, imam salat fardhu dan tarawih, sekaligus pengisi kajian dan kultum Ramadhan.
Kepercayaan itu ia peroleh melalui rekomendasi Sekretaris LDNU Kabupaten Bogor. Setelah mengirimkan curriculum vitae dan mengikuti proses wawancara terkait pengalaman akademik dan organisasi selama kuliah, ia akhirnya dipercaya untuk berkontribusi dalam program Ramadhan di lingkungan KBRI.
Suasana Ramadhan di Masjid KBRI Singapura, menurut Hasymi, berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Jamaah yang terdiri dari Wakil Duta Besar, para staf, manajemen, serta tokoh masyarakat turut meramaikan kegiatan ibadah dan kajian.
Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika dipercaya mengimami Wakil Duta Besar. Bagi Hasymi, pengalaman tersebut bukan sekadar kebanggaan personal, melainkan refleksi atas tanggung jawab moral dan profesional dalam membawa nilai-nilai keilmuan di ruang representatif negara.
Dalam materi kajiannya, ia mengangkat tema seputar Ramadhan, keistiqamahan dalam berbuat baik, serta pentingnya membangun keharmonisan keluarga. Pendekatan yang digunakan bersandar pada hadis Nabi sebagai landasan normatif, yang kemudian dikontekstualisasikan dengan realitas kehidupan keluarga Muslim masa kini.
Menariknya, pada hari pertama kegiatan, ia mendapat pertanyaan dari jamaah terkait persoalan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Ketertarikannya terhadap kajian kasus KDRT selama menempuh studi di HKI Unusia membantunya menjawab pertanyaan tersebut secara argumentatif dan proporsional. Ia mengakui bahwa bekal akademik yang diperoleh selama kuliah sangat berperan dalam membangun kepercayaan diri sekaligus ketepatan dalam merespons persoalan umat.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa disiplin Hukum Keluarga Islam memiliki relevansi yang luas, tidak hanya dalam konteks peradilan atau akademik, tetapi juga dalam menjawab kebutuhan riil masyarakat, termasuk di lingkungan diaspora Indonesia.
Bagi Hasymi, kesempatan ini merupakan pengalaman pertamanya mengisi kegiatan keagamaan di luar negeri. Ia mengungkapkan rasa haru atas amanah yang diberikan, sekaligus menjadikannya sebagai momentum refleksi atas perjalanan intelektualnya sejak di bangku kuliah.
Di tengah aktivitasnya saat ini menjalankan usaha Ambulance Mini ICU, ia tetap memegang prinsip untuk berani mencoba dan mengambil peluang pengabdian.
“Jangan takut untuk mencoba. Tidak perlu khawatir bagaimana hasilnya, yang penting berani melangkah dan melakukannya,” pesannya kepada mahasiswa-mahasiswi Unusia.
Kisah ini menjadi cerminan bahwa kompetensi akademik yang dibangun di lingkungan Unusia mampu membuka ruang kontribusi yang lebih luas. Kepercayaan untuk mengisi program Ramadhan di KBRI Singapura tidak hanya menjadi capaian personal, tetapi juga representasi kualitas lulusan yang siap berkiprah dan membawa nilai-nilai keilmuan Islam di berbagai ruang, termasuk pada forum yang berskala internasional.