Search

Dekan FIN Unusia Hadiri Forum Dunia di Tiongkok, Bahas Kontribusi Islam Nusantara

Shanghai, Tiongkok — Dekan Fakultas Islam Nusantara (FIN) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Dr. Ahmad Su’adi, berpartisipasi dalam forum internasional tentang peradaban dunia bertajuk The Eleventh Nishan Forum on World Civilization yang digelar di kota Nishan, provinsi Shandong, Tiongkok, pada awal Juli 2025.

Dalam perjalanannya, Dr. Su’adi menyusuri jejak dua tokoh besar yang menjadi simbol peradaban Tiongkok dan Islam global: Confucius dan Laksamana Cheng Ho (Zheng He). Kegiatan ini bukan semata wisata sejarah, melainkan sekaligus menjadi panggung kontribusi ilmiah Indonesia di kancah internasional.

Kunjungan ini tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga menjadi refleksi sejarah dan peran Islam dalam peradaban global, khususnya kontribusi Islam Nusantara yang ramah dan berakar pada budaya lokal.

Dr. Su’adi melanjutkan perjalanan menuju kota Ji’nan di Tiongkok Selatan, lalu menuju Qufu, kota kecil tempat kelahiran Confucius—tokoh besar filsafat Tiongkok yang dikenang sebagai Maha Guru. Di Qufu, ia mengunjungi Museum dan Kuil Confucius yang menjadi pusat penghormatan terhadap pemikiran dan warisan intelektual Confucius. Arsitektur bangunan yang khas, menyerupai kompleks pendidikan, mengingatkannya pada sistem pesantren di Indonesia.

Namun kunjungan ini bukan semata wisata intelektual. Dr. Su’adi hadir sebagai peserta dan pembicara dalam The Eleventh Nishan Forum on World Civilization yang berlangsung di kota Nishan, bagian dari kawasan Qufu. Forum ini menghadirkan para akademisi dan pakar dari seluruh dunia untuk mendiskusikan perkembangan peradaban, filsafat, etika, teknologi, hingga kecerdasan buatan. Dalam forum tersebut, Dr. Su’adi menyampaikan pandangannya mengenai peran Laksamana Zheng He atau Cheng Ho dalam membentuk karakter Islam yang damai dan akomodatif di Nusantara.

“Strategi asimilasi yang diperkenalkan oleh Zheng He, utusan Dinasti Ming, telah meletakkan fondasi kuat bagi wajah Islam Nusantara yang bersahabat dan terbuka terhadap budaya lokal,” ujar Dr. Su’adi dalam presentasinya.

Usai dari Qufu, Dr. Su’adi melanjutkan perjalanan ke Taicang, kota kecil di pinggiran Shanghai yang dikenal sebagai tempat kelahiran Zheng He. Di kota ini, ia mengikuti Academic Symposium on Zheng He Culture and New Era Studies yang mempertemukan para profesor, peneliti, dan pebisnis dari berbagai negara. Forum ini membahas kontribusi Zheng He dalam membangun jaringan peradaban global dan bagaimana warisannya masih menjadi inspirasi di era modern.


Zheng He dikenal sebagai laksamana Muslim dari Dinasti Ming yang melakukan tujuh pelayaran besar ke berbagai belahan dunia, termasuk ke wilayah Nusantara. Dalam ekspedisinya, ia membangun masjid di berbagai daerah seperti Surabaya, Semarang, Cirebon, dan Palembang—beberapa di antaranya kini telah berubah fungsi menjadi klenteng. Gaya arsitektur masjid yang dibangunnya, seperti atap tajug bertumpuk tiga, turut memberi warna pada desain masjid-masjid di Jawa.

Di Taicang, Dr. Su’adi juga mengunjungi Museum Zheng He, yang dilengkapi dengan patung raksasa sang laksamana, video animasi sejarah pelayaran, hingga peta-peta kunjungan pelabuhan di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Pemerintah Tiongkok dan pemerintah daerah terlihat sangat serius dalam merawat warisan sejarah dan mendukung diskusi ilmiah lintas negara.

Partisipasi Dr. Ahmad Su’adi dalam forum-forum peradaban dunia ini menjadi wujud nyata keterlibatan akademisi Unusia dalam percakapan global. Melalui pendekatan historis dan kultural, ia memperkenalkan Islam Nusantara sebagai wajah Islam yang toleran, inklusif, dan berakar kuat pada nilai-nilai lokal.

Perjalanan ini tidak hanya memperkuat jaringan akademik internasional, tetapi juga mempertegas pentingnya sejarah dan budaya sebagai pilar dalam membangun masa depan peradaban yang harmonis.


Penulis: Anwariah Salsabila