Search

Dosen PGMI Unusia Raih Hibah Dana Abadi Kebudayaan 2025, Gelar Roadshow Batik di Tiga Sekolah

Jakarta – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia). Widya Rahmawati Al-Nur, dosen Program Studi PGMI Unusia, berhasil meraih hibah nasional dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Layanan Produksi Bidang Kebudayaan untuk kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif dalam lingkup Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025.

Program ini merupakan bagian dari skema pendanaan kebudayaan yang dikelola melalui Dana Indonesiana bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Kontrak kegiatan berlangsung selama satu tahun hingga Oktober 2026.

Widya menjelaskan bahwa proses seleksi dimulai dari pengajuan administrasi hingga seleksi substansi proposal melalui laman Dana Indonesiana. Pengumuman kelulusan substansi diterima pada November 2025, yang kemudian dilanjutkan dengan pembekalan terkait tata kelola dana dan perpajakan sebelum pencairan dana dilakukan secara bertahap melalui sistem yang dikelola LPDP.

Program yang diusung berjudul “Melestarikan Batik Sejak Dini: Roadshow dan Pameran Batik di Lingkungan Sekolah.” Menurut Widya, batik dipilih bukan semata sebagai simbol budaya, tetapi karena proses membatik mengandung nilai-nilai luhur yang relevan bagi generasi muda.

“Proses membatik sarat dengan nilai kesabaran, ketekunan, kejujuran, dan semangat nasionalisme. Melalui kegiatan ini saya berharap terjadi regenerasi keterampilan sekaligus pembentukan karakter generasi bangsa menuju generasi emas,” ujarnya.

Kegiatan ini menyasar lingkungan sekolah sebagai ruang strategis pembentukan karakter. Roadshow telah dilaksanakan di RA Karisma Jakarta Pusat, MI Karisma Jakarta Pusat, dan SMKN 16 Jakarta Pusat dengan total peserta mencapai 200 siswa dari berbagai jenjang.

Dalam pelaksanaannya, para siswa mengikuti praktik membatik menggunakan media konvensional. Motif yang dikembangkan adalah motif “ASTA” yang terinspirasi dari semangat Asta Cita Indonesia. Motif tersebut direncanakan untuk didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai kekayaan intelektual dosen PGMI Unusia.

Antusiasme siswa terlihat tinggi selama kegiatan berlangsung. Selain praktik langsung, sesi interaktif dan tanya jawab turut menambah semangat peserta. Banyak siswa yang baru pertama kali merasakan pengalaman membatik secara langsung.

“Generasi muda hari ini adalah kunci masa depan. Seberapa jauh mereka mengenal dan mau mengenakan batik menjadi modal awal untuk menjaga kebudayaan Indonesia agar tetap lestari,” tambahnya.

Sebagai tindak lanjut, karya terbaik siswa akan dicetak menjadi kain batik dan dipamerkan dalam agenda diseminasi yang direncanakan berlangsung di Unusia. Program ini juga memiliki rencana keberlanjutan melalui pengembangan kewirausahaan budaya dalam ekosistem Dana Indonesiana.

Melalui program ini, Widya berharap rasa cinta dan memiliki terhadap batik semakin tumbuh di tengah generasi Z, sekaligus memperkuat kontribusi Unusia dalam pelestarian dan inovasi kebudayaan nasional.