Search

Dosen Psikologi Unusia Tulis Book Chapter Terindeks Scopus tentang Dampak Pornografi terhadap Kesehatan Mental

Jakarta – Devie Yudianto, M.Psi., dosen Psikologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) yang juga menjabat sebagai Sekretaris Program Studi Psikologi sekaligus Ketua Unit Pelaksana Teknis (UPT), berhasil menorehkan capaian akademik melalui publikasi ilmiah internasional berupa book chapter terindeks Scopus.

Karya tersebut berjudul “Pornography and Its Effect on Psychopathology”, dimuat dalam buku Psychology of Sexuality and Mental Health Vol. 2 yang dieditori oleh Naveen Pan dari India. Buku ini merupakan kumpulan kajian dari para akademisi lintas negara yang membahas hubungan antara seksualitas dan kesehatan mental dari berbagai perspektif ilmiah.

Dalam bab yang ditulisnya, Devie meneliti hubungan antara konsumsi pornografi dan kemunculan gangguan psikologis (psikopatologi). Berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya yang menyoroti penyebab seseorang mengonsumsi pornografi, penelitian ini justru mengulas dampak psikologis yang muncul setelah seseorang terpapar pornografi.

“Selama ini riset banyak membahas faktor penyebab seseorang menonton pornografi, tetapi saya ingin melihat sebaliknya — gangguan psikologis apa yang mungkin muncul akibat konsumsi pornografi,” jelas Devie.

Melalui metode Systematic Literature Review (SLR) dengan panduan PRISMA, ia menelusuri lebih dari 4.500 artikel internasional dan menyeleksi 17 penelitian yang relevan. Kajian ini melibatkan kolaborasi bersama peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Hasil kajian menunjukkan bahwa pornografi memiliki dampak yang kompleks terhadap kondisi psikologis individu. Beberapa gangguan yang ditemukan berkorelasi dengan paparan pornografi antara lain:

- Gangguan seksual, seperti disfungsi seksual, perilaku hiperseksual, dan kecenderungan pedofilia.

- Gangguan kepribadian antisosial dan perilaku agresif.

- Gangguan kecemasan dan depresi, yang berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon dopamin.

- Obsessive-Compulsive Disorder (OCD), akibat penggunaan pornografi yang tidak terkontrol.

- Psikosomatik dan rasa bersalah, terutama pada individu dengan latar religius yang kuat.

“Secara umum, pornografi dapat memicu masalah psikologis, tetapi tingkat dan bentuknya sangat bergantung pada konteks sosial, moral, dan kepribadian seseorang,” terang Devie.

Ia menambahkan bahwa di banyak kasus, moralitas dan rasa bersalah justru memperkuat dampak psikologis yang muncul, terutama di masyarakat dengan nilai-nilai religius yang tinggi.

Ketertarikan Devie terhadap isu ini berangkat dari pengalamannya meneliti bidang psikologi seksual dan pendidikan seksualitas. Menurutnya, fokus riset perlu diarahkan tidak hanya pada perlindungan korban, tetapi juga pada pencegahan perilaku pelaku.

“Saya ingin mengajak kita melihat sisi pencegahan. Bagaimana laki-laki, misalnya, bisa tidak menjadi pelaku kekerasan atau penyimpangan seksual. Pornografi adalah salah satu pintu masuk penting untuk memahami hal itu,” ujarnya.

Proses penulisan book chapter ini memakan waktu panjang dan penuh dedikasi. Devie menyebut bahwa tantangan terbesar adalah menjaga fokus dan konsistensi dalam menelaah ribuan artikel ilmiah.

“Selama dua minggu penuh saya menulis tanpa gangguan, dari pagi sampai malam. Karena ini systematic review, tidak bisa dikerjakan seperti tugas biasa. Semua data harus diverifikasi dan dibaca satu per satu,” ungkapnya.

Buku tersebut kini telah terindeks Scopus dan menjadi bagian dari katalog publikasi internasional. Sebelumnya, Devie juga telah berkontribusi dalam beberapa publikasi lain di jurnal bereputasi, termasuk dua di antaranya pada level Q4 dan satu Q1 melalui book review di Sage Publications.

Capaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga memperkuat posisi Unusia dalam peta penelitian psikologi di Indonesia. Devie berharap publikasi ini dapat menjadi referensi bagi peneliti muda dan mahasiswa untuk terus memperluas kajian ilmiah tentang kesehatan mental, perilaku seksual, dan literasi digital.

“Saya ingin mahasiswa dan peneliti muda di Unusia berani menulis dan berkolaborasi dalam riset internasional. Ilmu akan hidup kalau terus dibagikan,” pungkasnya.


Penulis: Anwariah Salsabila