Search

FIN Unusia Hadirkan Prof. Dr. Mariam Ait dari Maroko dalam Kuliah Tamu Internasional

Jakarta — Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) kembali memperkuat jejaring akademik internasional dengan menghadirkan Prof. Dr. Mariam Ait Ahmed, Guru Besar Universitas Ibnu Tufail, Maroko, dalam Kuliah Tamu bertajuk “Hubungan Diplomatik antara Indonesia dan Maroko: Perspektif Historis”, pada Selasa, 26 Mei 2025 di Kampus A Unusia, Jakarta.

Kuliah tamu ini menjadi momen penting dalam menjembatani diplomasi antarnegara melalui pendekatan keilmuan dan budaya. Prof. Mariam menekankan pentingnya memperkuat kerja sama antara Indonesia dan Maroko dalam bidang pendidikan dan riset sebagai bentuk diplomasi yang lebih substansial dan berkelanjutan. “Diplomasi tidak hanya berhenti pada tataran politik dan ekonomi, tetapi juga harus diperluas melalui pintu keilmuan dan kebudayaan. Di sinilah peran institusi seperti Unusia menjadi sangat strategis,” ujar Prof. Mariam dalam paparannya.

Dalam pemaparannya, Prof. Mariam menjelaskan bahwa kerja sama ilmiah antara kedua negara harus dimulai dari penguatan pertukaran akademik dan kolaborasi riset. Hal ini mencakup bidang-bidang seperti studi peradaban, sejarah, dan kebudayaan Islam, yang memiliki banyak kesamaan antara Indonesia dan Maroko. Menurutnya, hubungan bilateral yang dimulai dari jalur perdagangan dan bisnis perlu diperluas ke ranah pendidikan tinggi untuk menghasilkan solusi bersama atas berbagai persoalan global.

Prof. Mariam juga menyoroti pentingnya peran duta keilmuan yang mampu menjadi jembatan dalam menerjemahkan tradisi intelektual antara dunia Islam Timur dan Barat. Ia menekankan bahwa gerakan penerjemahan dan adaptasi lokal atas tradisi keilmuan harus terus dikembangkan untuk memperkaya khazanah pemikiran Islam kontemporer.

Selain itu, Prof. Mariam menegaskan bahwa tradisi sosiologi dan antropologi yang berkembang di Maroko memiliki karakter yang unik, namun juga selaras dengan pendekatan keilmuan yang dikembangkan di Indonesia. Menurutnya, harmoni antara pemikiran keislaman berbasis lokal dapat menjadi kontribusi besar dalam mendefinisikan kembali peran Islam dalam masyarakat global.

Pada bagian akhir kuliah, Prof. Mariam membahas pentingnya pendekatan berbasis nilai-nilai Al-Qur’an dalam mengangkat isu-isu gender. Ia menyebut bahwa gerakan kesetaraan dan keadilan gender harus diarahkan untuk menguatkan institusi keluarga melalui pendekatan sakinah, mawaddah, dan rahmah yang bersumber dari metode Qur’ani.

Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia, Dr. Ahmad Su’adi, menyambut hangat kehadiran Prof. Mariam dan menyatakan bahwa kolaborasi internasional seperti ini sejalan dengan semangat “Islam Nusantara” yang terbuka terhadap dialog dan pertukaran peradaban. “Kami berharap ini bukan sekadar kuliah tamu, melainkan awal dari kerja sama akademik yang lebih luas dengan institusi di Maroko, khususnya dalam kajian Islam dan budaya lokal,” tutur Dr. Su’adi.

Acara ini turut dihadiri oleh civitas akademika Unusia, mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam, dan perwakilan dari berbagai fakultas. Kuliah tamu ini juga menjadi bagian dari rangkaian internasionalisasi Unusia dalam mewujudkan visi sebagai Universitas yang “rooted in faith, rising for the world.”


Penulis: Anwariah Salsabila