Jakarta — Suparianto, mahasiswa Sosiologi semester 7 Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), terpilih mengikuti Forest Youthverse Summit 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Kehutanan. Ia membawa gagasan “Aku Pohon: Adopsi Pohon KHDTK untuk Pelibatan Masyarakat dan Mahasiswa dalam Konservasi Berkelanjutan.”
Suparianto pertama kali mengetahui informasi ini dari akun Instagram Pusat Generasi Rimbawan (Pusgenri) sebelum akhirnya mendaftar dan mengajukan inovasinya. Ia menjelaskan bahwa idenya muncul dari kegelisahan generasi muda terhadap isu lingkungan. “Survei Indikator 2021 menunjukkan 82% anak muda khawatir terhadap kerusakan lingkungan. Namun tanpa ruang untuk berperan, kekhawatiran itu hanya berhenti pada rasa cemas. Program ‘Aku Pohon’ saya desain agar kepedulian itu bisa berubah menjadi tindakan nyata,” ungkapnya.
Sebelum menghadiri agenda utama, Suparianto melewati proses mentoring selama tiga hari pada 11–13 November 2025 bersama ribuan peserta lain se-Indonesia. “Saya senang ada mentoring dulu. Ini membuat kami lebih siap secara konsep maupun mental sebelum turun langsung dalam kegiatan,” ujarnya.
Forest Youthverse Summit berlangsung pada 26–29 November 2025 di KHDTK Sawala Mandapa, Majalengka, dengan agenda yang meliputi:
- Forest Element Shuffle (pembentukan kelompok)
- Youth Connect Create Collaborate (pembukaan)
- Talk Show – Green Leadership in Action: Forest Campaign Strategy
- Rimba Creative Expo (pameran inovasi peserta dan UMKM lokal)
- Malam Keakraban – Rimbawan Party
- Penanaman pohon dan tracking KHDTK Sawala Mandapa
- Refleksi dan Sharing Circle
Menurut Suparianto, kegiatan ini merupakan momentum penting bagi anak muda untuk hadir sebagai agen perubahan dalam isu kehutanan dan lingkungan. “Dalam sosiologi lingkungan kita belajar bahwa manusia dan alam saling memengaruhi. Kalau perilaku sosial berubah, maka kondisi lingkungan ikut berubah. Begitu juga sebaliknya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa jejaring yang terbangun selama kegiatan ini sangat penting untuk masa depan. “Kita semua yang hadir di sini punya energi yang sama: ingin tumbuh. Bukan hanya tumbuh secara pribadi, tapi tumbuh sebagai komunitas yang peduli terhadap bumi. Jejaring ini harus dijaga. Di tahun 2045, kita adalah generasi yang akan memimpin Indonesia Emas. Jadi apa yang kita lakukan sekarang akan menentukan wajah Indonesia di masa depan,” ujarnya.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Unusia, Naeni Amanullah, menyampaikan apresiasi terhadap mahasiswa yang terlibat.
“Sejak semula manusia adalah bagian dari alam yang bersama-sama membentuk kehidupan. Manusia bukan entitas yang superior dari alam. Dengan mengikuti kegiatan ini, semoga Ryan dapat mengembangkan pemahaman dan praktik baik yang bukan saja mendukung kelestarian hutan, melainkan kehidupan itu sendiri,” tutur Naeni.
Suparianto menegaskan bahwa pengalaman ini membuktikan bahwa mahasiswa Unusia memiliki peluang besar jika berani melangkah. “Untuk teman-teman Unusia, kita punya potensi besar. Kampus kita memberi banyak ruang untuk berkembang, tinggal kita sendiri yang harus bergerak. Jangan ragu untuk mencoba hal baru, cari pengalaman, bangun relasi, dan tumbuh bersama. Kampus kita keren—dan kita juga harus keren,” pesannya.
Penulis: Anwariah Salsabila