Jakarta – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) di kancah internasional. Dua mahasiswa Unusia berhasil meraih penghargaan dalam ajang International Conference bersama Prime Future Academy (PFA#1) 2026 yang diselenggarakan di Universiti Malaya, Malaysia, dan Singapura.
Kedua mahasiswa tersebut adalah Rama Aditya Putra, mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam semester 4, yang meraih penghargaan Best Speaker International Conference, serta Naila Salwa Az-zahrah, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum semester 6, yang meraih penghargaan Best Topic Conference. Keduanya menjadi delegasi yang mewakili Indonesia sekaligus membawa nama Unusia dalam forum akademik internasional yang diikuti peserta dari berbagai negara.
Rama Aditya Putra mengungkapkan bahwa keikutsertaannya berawal dari keinginan untuk mengembangkan diri dan memperoleh pengalaman di tingkat global. Setelah melalui proses seleksi, penyusunan abstrak, hingga persiapan materi presentasi, ia dipercaya menjadi delegasi Unusia dalam konferensi tersebut. Dalam forum internasional itu, Rama mempresentasikan topik berjudul “Strengthening Agrarian Justice Through Land Reform: Advancing SDGs 1 and 15 in Indonesia” yang membahas pentingnya reforma agraria dalam mendukung pengentasan kemiskinan dan pelestarian ekosistem daratan di Indonesia.
Menurut Rama, keberhasilannya meraih penghargaan Best Speaker tidak lepas dari persiapan yang matang, mulai dari pendalaman materi, latihan public speaking, hingga peningkatan kemampuan berbahasa Inggris. Ia juga berusaha membangun keterhubungan dengan audiens melalui penyampaian data yang relevan dan terstruktur. “Ketika nama saya diumumkan sebagai penerima penghargaan Best Speaker, saya merasa sangat bersyukur dan terharu. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa kerja keras, doa, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman dapat menghasilkan sesuatu yang membanggakan,” ujarnya.
Sementara itu, Naila Salwa Az-zahrah mengikuti program tersebut setelah menemukan informasi mengenai kegiatan internasional Prime Future Academy melalui media sosial. Setelah melalui seleksi administrasi dan wawancara, ia berhasil terpilih sebagai delegasi kategori Partial Funded untuk program Malaysia dan Singapura. Dalam konferensi tersebut, Naila mengangkat topik “The Food Waste Paradox in Indonesia: A Systemic Challenge in Consumption Behavior and Food Governance” yang menyoroti persoalan pemborosan makanan di Indonesia serta dampaknya terhadap lingkungan dan keberlanjutan sumber daya.
Topik yang diangkat Naila dinilai unggul karena relevan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Ia menjelaskan bahwa presentasinya didukung oleh data dan referensi yang dicantumkan secara sistematis dalam setiap bagian materi. Berkat kualitas topik yang diangkat, Naila berhasil meraih penghargaan Best Topic Conference.
Bagi keduanya, pengalaman mengikuti konferensi internasional menjadi kesempatan berharga untuk bertukar gagasan dengan mahasiswa dan akademisi dari berbagai negara. Selain memperluas wawasan akademik, kegiatan ini juga mengasah kemampuan komunikasi, berpikir kritis, kepemimpinan, serta kemampuan beradaptasi dalam lingkungan multikultural.
Rama berpesan kepada mahasiswa Unusia agar tidak pernah merasa keterbatasan menjadi penghalang untuk meraih prestasi. “Prestasi internasional tidak selalu dimulai dari kemampuan yang sempurna, tetapi dari keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk terus berkembang,” katanya. Senada dengan itu, Naila mengajak mahasiswa untuk berani keluar dari zona nyaman dan tidak takut mengambil peluang. Menurutnya, dunia internasional terbuka bagi siapa saja yang memiliki keberanian untuk mencoba dan terus belajar.
Prestasi yang diraih Rama Aditya Putra dan Naila Salwa Az-zahrah menjadi bukti bahwa mahasiswa Unusia mampu bersaing dan berkontribusi dalam forum akademik internasional. Capaian ini sekaligus menjadi inspirasi bagi sivitas akademika Unusia untuk terus berkarya, berprestasi, dan membawa nama baik universitas di tingkat global.