Jakarta — Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia). Suparyanto, mahasiswa semester tujuh Program Studi Sosiologi, berhasil lolos dalam Future Leaders Camp (FLC) 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Selain aktif dalam perkuliahan, Suparyanto dikenal sebagai mahasiswa yang aktif di berbagai kegiatan organisasi dan komunitas sosial lingkungan. Ketertarikannya pada isu sosial, kepemimpinan, dan perubahan masyarakat menjadi dorongan kuat untuk terus mencari ruang aktualisasi diri di tingkat nasional.
“Saya pertama kali mengetahui tentang FLC 2025 melalui unggahan di akun resmi @ditjen_dikti dan @belmawa.dikti di Instagram. Program ini langsung menarik perhatian saya karena mengusung semangat leadership development dan kolaborasi lintas kampus,” ungkap Suparyanto.
Bagi Suparyanto, FLC bukan sekadar pelatihan kepemimpinan, melainkan wadah bagi mahasiswa dari berbagai daerah untuk bertukar gagasan dan merancang solusi nyata bagi tantangan bangsa. Ia menilai FLC sebagai ruang ideal untuk memperdalam kapasitas kepemimpinan sekaligus memperluas jejaring nasional.
Motivasi utamanya mengikuti FLC adalah keinginan untuk mengasah kemampuan kepemimpinan transformatif — kepemimpinan yang berorientasi pada perubahan sosial dan keberlanjutan.
“Saya ingin membawa semangat mahasiswa Unusia dan nilai-nilai Islam Nusantara ke dalam forum nasional ini, menunjukkan bahwa kepemimpinan berbasis nilai, empati, dan kolaborasi dapat menjadi solusi bagi tantangan global masa depan,” jelasnya.
Seleksi FLC berlangsung cukup ketat. Peserta diwajibkan mengisi formulir di portal Simbelmawa, mengunggah esai kepemimpinan dan pengalaman organisasi, serta melampirkan rekam jejak kegiatan sosial. Setiap tahap menguji konsistensi, komitmen, dan kesiapan mental untuk menjadi bagian dari program nasional di bawah Kemdiktisaintek RI.
Menurut Suparyanto, tantangan terbesar bukan hanya menyusun esai yang kuat, tetapi juga mempresentasikan diri secara autentik dan relevan, di tengah kesibukan kuliah dan organisasi.
“Menyeimbangkan waktu antara kegiatan organisasi, kuliah, dan persiapan seleksi memang tidak mudah. Tapi justru dari situ saya belajar makna kepemimpinan yang sejati—bagaimana tetap berkomitmen dan bertanggung jawab dalam berbagai situasi,” tuturnya.
Momen pengumuman kelolosan menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Suparyanto.
“Saat dinyatakan lolos sebagai peserta FLC 2025, perasaan saya campur aduk antara bangga, haru, dan bersyukur. Saya merasa usaha panjang selama ini akhirnya mendapat pengakuan. Tapi lebih dari itu, saya punya tanggung jawab baru untuk membawa nama kampus dan organisasi dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Dalam FLC 2025, Suparyanto paling menantikan Leadership Bootcamp dan Social Innovation Project. Ia berharap dapat belajar mengelola proyek sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat serta mendapatkan bimbingan dari mentor-mentor muda nasional.
Suparyanto juga menilai nilai-nilai yang dipelajari selama di Unusia berperan besar dalam prosesnya.
“Di Unusia saya belajar tentang moderasi beragama, nilai humanisme, dan kepemimpinan berbasis etika sosial. Pengalaman di IPNU juga membentuk karakter saya untuk berpikir kritis sekaligus empatik,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan sosial yang ia pelajari di Sosiologi membantu menganalisis masalah masyarakat secara lebih komprehensif dan aplikatif.
Menutup wawancara, Suparyanto menyampaikan pesan untuk mahasiswa Unusia agar berani melangkah dan memanfaatkan setiap peluang yang ada.
“Jangan pernah takut untuk mencoba dan keluar dari zona nyaman. Banyak peluang di luar sana yang bisa mengasah kapasitas dan memperluas jejaring,” pesannya penuh semangat.
Keberhasilan Suparyanto menjadi peserta Future Leaders Camp 2025 menjadi bukti bahwa mahasiswa Unusia mampu bersaing di tingkat nasional dan berkontribusi nyata dalam membangun kepemimpinan muda Indonesia yang berintegritas dan berdaya saing global.
Penulis: Anwariah Salsabila