Search

Menapak Jejak “Dagang Santri”: Fakultas Islam Nusantara Bahas Istilah yang Hilang dari Sejarah Melayu

Jakarta — Fakultas Islam Nusantara (FIN) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) menggelar Diskusi Bulanan pada Jumat, 24 Oktober 2025, bertempat di lantai 2 Kampus Unusia. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Fariz Alnizar, M.Hum. sebagai narasumber dengan tema “Mereka Pergi dan Tak Kembali: Menapak Jejak ‘Dagang Santri’ dalam Sejarah Melayu.”

Diskusi yang dihadiri oleh para sivitas akademika Fakultas Islam Nusantara ini membahas pencarian dan pemaknaan kembali istilah dagang santri — sebuah lema yang dahulu hidup dalam sejarah Melayu pada abad ke-16 hingga ke-18, namun kini nyaris menghilang dari perbendaharaan bahasa dan sejarah.

Dalam pemaparannya, Dr. Fariz menjelaskan bahwa istilah dagang santri memiliki makna yang berbeda dengan pemahaman modern.

“Pada masa itu, kata dagang berarti ‘orang asing’, bukan pedagang seperti sekarang. Sedangkan santri merujuk pada orang muslim yang menuntut ilmu. Jadi, dagang santri bisa dimaknai sebagai orang asing yang berkelana untuk menuntut ilmu,” terangnya.

Menurutnya, istilah ini mulai hilang sekitar abad ke-17 hingga ke-18, seiring dengan pergeseran makna kata dagang dari ‘orang asing’ menjadi ‘pedagang’. Pergeseran ini menunjukkan adanya perubahan pandangan sosial dan ekonomi dalam masyarakat Melayu pada masa itu.

Diskusi berlangsung secara interaktif dan penuh antusiasme. Para dosen dan mahasiswa aktif berdialog, menanggapi, dan memperdalam pemahaman tentang hubungan antara bahasa, sejarah, dan dinamika peradaban Islam di kawasan Melayu-Nusantara.

Melalui forum ini, Fakultas Islam Nusantara Unusia menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang-ruang intelektual yang menggali khazanah Islam Nusantara, sekaligus menumbuhkan semangat berpikir kritis dan reflektif di kalangan akademisi.


Penulis: Anwariah Salsabila