Search

Ngabuburit Kebangsaan 2026 di Unusia: Penguatan Ideologi Pancasila untuk Mempererat Ukhuwah Islamiah

Jakarta - Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) menggelar kegiatan Ngabuburit Kebangsaan Tahun 2026 bertema “Penguatan Nilai-Nilai Ideologi Pancasila dalam Rangka Memperkuat Ukhuwah Islamiah” pada Selasa, 24 Februari 2026, di Aula Jakoeb Oetama Unusia, Jakarta. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi kebangsaan yang mempertemukan gagasan keislaman, keindonesiaan, serta tantangan masyarakat masa depan.

Acara diawali dengan laporan kegiatan oleh Deputi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Dr. Ir. Prakoso, M.M. Ia menegaskan bahwa pembangunan peradaban bangsa tidak dapat dilepaskan dari penguatan fondasi ideologis di tengah era revolusi dan disrupsi yang terus berkembang.

Menurutnya, kehadiran BPIP di Unusia merupakan bagian dari ikhtiar strategis membangun sinergi antara negara dan perguruan tinggi. Unusia sebagai institusi akademik berbasis nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah dinilai memiliki peran penting dalam mengintegrasikan IMTAK (iman dan takwa), IMTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi), serta Pancasila dalam satu kesatuan pembentukan karakter bangsa.

Memasuki sesi utama, kegiatan dilanjutkan dengan Seminar dan Dialog Kebangsaan yang dipandu oleh Naeni Amanullah, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Unusia. Dalam pengantarnya, ia mengajak sivitas akademika merefleksikan nilai-nilai ideologi Pancasila yang harus tertanam kuat di lingkungan kampus. Ia menekankan pentingnya mengimplementasikan gagasan dalam buku Future Society sebagai pijakan membangun masyarakat masa depan yang berkarakter dan berkeadaban.

Sebagai narasumber utama, Ahmad Suaedy, Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia, membedah buku dalam Future Society dengan menempatkan Pancasila sebagai filosofi ideologi yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus kekuatan ketatanegaraan. Menurutnya, tantangan terbesar adalah bagaimana Islam dan Pancasila terus berdialog secara produktif dalam membangun future society Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa perubahan masyarakat selalu ditandai oleh pergeseran pola dan basis sosial. Disrupsi tidak hanya terjadi pada sektor teknologi dan industri, tetapi juga merambah ranah agama dan sosial. Dalam konteks ini, social capital dan moral budaya menjadi kunci. Social capital lahir dari kebiasaan-kebiasaan yang hidup dalam masyarakat—termasuk tradisi religius—yang membentuk jejaring panjang budaya dan agama di Indonesia.

Ia juga menyinggung sejarah panjang Islam di Indonesia serta semangat kebinekaan yang terus dijaga oleh Nahdlatul Ulama. Menurutnya, jika kebenaran tidak ditegakkan melalui narasi yang kuat, maka ruang publik akan diisi oleh informasi yang tidak terverifikasi.

Sementara itu, dr. Syahrizal Syarief, MPH, Ph.D., menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menguatkan Pancasila secara konkret. Ia menyampaikan bahwa kampus-kampus Nahdlatul Ulama memiliki tanggung jawab menjaga nilai ketuhanan dalam bingkai Ahlussunnah wal Jamaah, menjadi garda terdepan dalam membela kemanusiaan dan martabat manusia, serta membangun intervensi sosial yang nyata di tengah masyarakat.

Ia mencontohkan bagaimana bangsa Jepang menjaga karakter generasinya melalui kesinambungan pendidikan di rumah dan sekolah. Menurutnya, Indonesia perlu menyelaraskan nilai yang diajarkan dalam keluarga dan lembaga pendidikan agar pembentukan karakter bangsa berjalan lebih efektif.

Kegiatan yang berlangsung interaktif ini menghadirkan partisipasi aktif mahasiswa dan dosen dalam sesi tanya jawab. Melalui Ngabuburit Kebangsaan 2026, Unusia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat nilai-nilai Pancasila, mempererat ukhuwah Islamiah, serta membangun peradaban Indonesia yang berlandaskan iman, ilmu, dan karakter kebangsaan yang kokoh.




Penulis: Anwariah Salsabila