Search

Peneliti Unusia Ungkap Siswa di Daerah Konservasi Mangrove Tidak Peduli Jika Suatu Saat Mangrove Hilang dari Desa Mereka

Jakarta - Seiring dengan terbitnya PP No. 27/2025 tentang Perlindungan dan Pelestarian Ekosistem Mangrove, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menggandeng Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) sebagai mitra dalam program Mangrove for Coastal Resiliences (M4CR) yang fokus pada isu pengelolaan dan pelestarian mangrove. Pogram yang sudah berjalan sejak awal tahun2026 ini memiliki fokus untuk merancang prototipe Edukasi Mangrove berbasis sekolan dan madrasah.

Dalam sesi ekspose hasil di hadapan KLH dan PMU M4CR, tim peneliti Unusia mengungkap temuan bahwa sebanyak 53% siswa/i yang menjadi responden menyatakan bahwa mereka tidak peduli jika suatu saat nanti hutan mangrove di desa mereka hilang.

"Tentu ini sesuatu yang mengkhawatirkan. Karena di sisi lain Pemerintah bekerjasama dengan berbagai pihak sudah menanam jutaan pohon mangrove dengan total luas ratusan hektar. Namun di sisi yang lain, siswa/i yang tumbuh dan berkembang di daerah konservasi tersebut justeru tidak peduli dengan keberadaan hutan mangrove," ujar Fatkhu Yasik selaku Ketua Tim Peneliti Unusia saat laporan progres report program pada Selasa (5/5) di Gran Melia Hotel Jakarta.

KLH pada tahun 2025 merilis bahwa luas mangrove Indonesia mencapai 3.4 juta hektar. Hal ini menempatkan Indonesia sebagai negara yang memiliki ekosistem mangrove terbesar di dunia. Artinya rendahanya kesadaran siswa/i terhadap ekosistem mangrove dalam jangka panjang akan mengancam keberlangsungan pelestarian hutan mangrove yang ada di Indonesia.

Dengan demikian, maka temuan di atas mempertegas bahwa pendekatan edukasi kepada siswa/i tingkat pendidikan dasar penting dilakukan. Oleh karena itu, berbeda dengan program sebelumnya yang berorientasi pada penanaman pohon mamgrove, tim Unusia menawarkan implementasi PP 27/2025 sebaiknya juga dilengkapi dengan pendekatan edukasi sebagai upaya memitigasi perusakan ekosistem mangrove dalam jangka panjang.

"Temuan di atas tadi seakan mengkonfirmasi bahwa selama ini memang pendekatan edukasi mangrove melalui sekolah dan madrasah belum kita garap secara masif dan konsisten," terang Fatkhu Yasik.

Temuan lain yang berhasil diungkap oleh peneliti Unusia adalah fakta bahwa sekolah tidak memiliki program pembelajaran yang terstruktur dan bermakna dengan memanfaatkan ekosistem mangrove di daerahnya sebagai sumber belajar yang kontekstual.

"Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada guru dan kepala sekolah, alasan tidak memanfaatkan ekosiatem mangrove sebagai sumber ajar salah satunya dikarenakan belum ada modul yang dinilai memadai dan dapat dijadikan rujukan oleh guru," terang Fatkhu Yasik.

Untuk itu, melalui kerjasama ini, Unusia akan menghasilkan prototipe Edukasi Mangrove Berbasis Sekolah dan Madrasah dalam bentuk modul project edukasi yang dapat diimplementasikan untuk SD Kelas V dan SMP Kelas VIII yang berada di seluruh daerah konservasi. Modul prototipe tersebut akan dilaunching pada tanggal 26 Mei 2026 di Jakarta oleh KLH.

"Harapannya modul ini kemudian dapat diimplementasikan secara piloting di Indramayu dan Kepulauan Seribu, kemudian kita ukur efektifitasnya sebelum dilakukan diseminasi di daerah lain yang identik dengan daerah piloting," tandas Fatkhu Yasik.