Jakarta – Fakultas Islam Nusantara (FIN) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) menggelar Ujian Terbuka Promosi Doktor di Aula Jakoeb Oetama, Unusia (27/6). Dalam sidang tersebut, Ismail Rasyid mempertahankan disertasinya yang berjudul "Fenomena Sufisme Urban di Kalangan Profesional (Kajian Historis dan Antropologis atas Pengamal Tarekat Qodiriah Naqsyabandiyah Suryalaya 2011–2024)."
Sidang dipimpin oleh Dr. Ahmad Su'adi, MA.Hum. selaku Ketua Sidang dengan Dr. Siti Nabilah, S.Sos.I., M.Pd. sebagai Sekretaris Sidang. Turut hadir sebagai penguji Moh. Hasan Basri, MA., Ph.D. dan Dr. Moh. Yusni Amru Ghozali, M.Ag., sementara Dr. Ayatullah, M.Ud. bertindak sebagai Promotor dan Dr. Ali M. Abdillah, M.A. sebagai Co-Promotor.
Dalam penelitiannya, Ismail mengangkat fenomena meningkatnya ketertarikan kalangan profesional terhadap praktik tasawuf melalui Tarekat Qodiriah Naqsyabandiyah (TQN) Suryalaya. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kehidupan modern yang penuh tuntutan dan tekanan, sehingga mendorong banyak profesional mencari ketenangan batin serta makna hidup melalui pendekatan spiritual.
Disertasi tersebut juga mengkaji perkembangan TQN Suryalaya pasca wafatnya Abah Anom pada 2011 hingga 2024. Dengan pendekatan historis dan antropologis, Ismail menelusuri bagaimana tarekat mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk melalui pemanfaatan media digital untuk pembinaan jamaah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa para profesional bergabung dengan TQN Suryalaya bukan semata karena persoalan ekonomi, melainkan didorong oleh kebutuhan akan keseimbangan hidup, ketenangan batin, dan nilai-nilai spiritual. Praktik seperti zikir, manaqiban, dan kajian tasawuf dinilai membantu mengelola stres, meningkatkan fokus, serta membentuk etos kerja yang berlandaskan kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan keikhlasan.
Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa keberlanjutan TQN Suryalaya tidak hanya bergantung pada figur pemimpin, tetapi juga pada kuatnya praktik keagamaan dan solidaritas antarsesama jamaah. Pemanfaatan platform digital turut memperkuat komunikasi dan pembinaan spiritual sehingga tetap relevan dengan dinamika kehidupan masyarakat urban.
Melalui disertasinya, Ismail Rasyid menegaskan bahwa sufisme memiliki relevansi dalam kehidupan profesional masa kini. Tasawuf tidak hanya menjadi ruang pembinaan spiritual, tetapi juga berkontribusi dalam membangun integritas, etika kerja, dan keseimbangan antara pencapaian karier dengan kehidupan batin.