Search

Tembus Panggung Global, Mahasiswi SPI Unusia Raih Best Group di International Youth Connection 2026

Jakarta — Satriani, mahasiswi Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) semester 4 Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), berhasil meraih penghargaan Best Group dalam ajang International Youth Connection (IYC) Malaysia–Singapore 2026, sebuah forum internasional yang mempertemukan pemuda untuk menghadirkan solusi atas isu global.

Penghargaan tersebut merupakan kategori tertinggi dalam forum yang diikuti pemuda dari berbagai daerah di Indonesia. Program International Youth Connection (IYC) sendiri merupakan inisiatif pengembangan pemuda yang berdiri sejak 2021 dan berfokus pada penguatan peran generasi muda sebagai agent of change di tingkat global, khususnya dalam merespons isu perubahan iklim melalui kerangka SDGs 13: Climate Action.

Dalam program IYC Batch 4, Satriani berpartisipasi sebagai delegate partially funded. Ia melalui proses seleksi sejak Januari 2026, mulai dari penyusunan scientific paper bertema “Scaling SDG 13 through Indonesian Youth Innovation”, pembuatan video presentasi inovasi, hingga tahap wawancara sebelum akhirnya dinyatakan lolos sebagai delegasi.

Selama kegiatan yang berlangsung pada 20–23 April 2026, peserta mengikuti rangkaian agenda akademik dan eksploratif di Singapura dan Malaysia. Di Singapura, delegasi menjalani formal academic discussion dan campus tour di National University of Singapore (NUS), serta mengunjungi sejumlah lokasi seperti Jewel Changi dan Merlion Park. Sementara di Malaysia, kegiatan meliputi kunjungan ke University of Malaya, Perpustakaan Kuala Lumpur, hingga konferensi internasional bersama para ahli, serta eksplorasi kawasan Dataran Merdeka, Menara Kembar Petronas, dan Batu Caves.

Dalam forum tersebut, Satriani bersama tim mengusung inovasi Sekolah PRIMA (Peduli Risiko Iklim dan Mitigasi Bencana), sebuah model edukasi berbasis experiential learning yang memanfaatkan boardgame interaktif untuk mengenalkan risiko iklim dan strategi mitigasi kepada anak-anak sejak usia dini.

Pendekatan ini mengombinasikan game-based learning dengan keterlibatan relawan muda sebagai fasilitator (peer-to-peer facilitation), sehingga mendorong interaksi, refleksi, serta partisipasi aktif peserta didik. Inovasi tersebut dinilai aplikatif dan relevan dalam menjawab tantangan edukasi iklim di tingkat masyarakat.

Puncaknya, gagasan yang dipresentasikan dalam sesi Project Presentation berhasil mengantarkan tim meraih penghargaan Best Group, sekaligus menjadi pengakuan atas kualitas dan daya saing inovasi yang diusung.

“Pengalaman ini memperluas pandangan saya bahwa tantangan seperti krisis iklim membutuhkan respons kolektif. Penting untuk membangun nilai kepedulian lingkungan yang kuat agar masyarakat lebih siap menghadapi perubahan,” ujar Satriani.

Ia menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa inovasi pemuda Indonesia mampu bersaing dan diakui di tingkat internasional. “Ini bukan hanya tentang penghargaan, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat,” tambahnya.

Satriani juga mendorong mahasiswa lain untuk berani mengambil peluang di forum internasional. Menurutnya, kunci utama terletak pada persiapan yang matang, kolaborasi tim yang solid, serta kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi.

Prestasi ini menegaskan kontribusi mahasiswa Unusia dalam membawa gagasan solutif ke panggung global, sekaligus memperkuat peran generasi muda sebagai penggerak perubahan di tengah tantangan zaman.