Search

Unusia Dorong Kepemimpinan Transformatif melalui Pelatihan Pengembangan Kapasitas Intelektual

Jakarta - Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) menggelar Pelatihan Kepemimpinan dan Pengembangan Kapasitas Intelektual bagi tenaga kependidikan dan pejabat struktural pada Selasa, 24 Februari 2026 di Aula Jakoeb Oetama, Kampus A Unusia. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas internal dalam membangun kepemimpinan yang bertumbuh dan berdampak.

Plt. Rektor Unusia, Syahrizal Syarif, dr. H. Syahrizal Syarif, MPH., Ph.D., dalam arahannya menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah sesuatu yang berubah secara instan.

“Kepemimpinan tidak bisa berubah hanya dalam waktu satu hari, tetapi dari pembiasaan. Pembiasaan inilah yang harus kita lakukan ke depannya,” tegasnya.

Sesi pelatihan dimoderatori oleh Fira Mubayyinah, yang membuka ruang diskusi dengan menekankan bahwa forum ini menjadi upaya bersama untuk merekonstruksi apa saja yang perlu dikembangkan dalam kepemimpinan di lingkungan kampus. Ia menyampaikan bahwa melalui pertemuan ini, peserta diajak belajar bersama narasumber untuk memperkuat nilai dan arah gerak institusi.

Pelatihan menghadirkan praktisi dan aktivis nasional, Agus Hadi Nahrowi atau yang dikenal sebagai Gus Rowi. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa kepemimpinan adalah seni memengaruhi. Namun sebelum memimpin orang lain, seseorang harus mampu memimpin dirinya sendiri.

“Jangan berpikir untuk memimpin orang lain jika kita belum pernah mendorong diri kita sendiri,” ujarnya.

Gus Rowi memperkenalkan konsep Learn–Unlearn–Relearn sebagai fondasi kepemimpinan bertumbuh. Menurutnya, sebelum memimpin, seseorang perlu berani melepaskan pola pikir lama. “Unlearn first, then lead. Dilepaskan dulu, baru memimpin,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa yang dicari dalam kepemimpinan bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi potensi untuk terus bertumbuh. Nilai-nilai yang dianut setiap individu, lanjutnya, bukan untuk dipertentangkan, melainkan menjadi identitas hidup dan kekuatan kolektif kampus.

“Tidak ada nilai yang tidak bagus. Nilai menjadi identitas hidup. Semua nilai bisa menjadi kekuatan di kampus ini,” ungkapnya.

Dalam suasana yang interaktif, peserta diajak merefleksikan pengaruh yang dimiliki masing-masing terhadap kemajuan institusi. Diskusi berkembang ketika para peserta berbagi pengalaman tentang proses unlearn dalam kehidupan profesional mereka, serta nilai-nilai yang mereka yakini dan pegang dalam bekerja. Sesi ini menjadikan pelatihan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga reflektif dan kontekstual.

Melalui pelatihan ini, Unusia menegaskan komitmennya untuk membangun kepemimpinan yang berlandaskan nilai, kesadaran diri, dan semangat bertumbuh bersama. Penguatan kapasitas internal diharapkan menjadi langkah strategis dalam mendorong kemajuan institusi secara berkelanjutan.





Penulis: Anwariah Salsabila