Jakarta – Usai gelombang demonstrasi beberapa waktu lalu, ruang publik masih dipenuhi dengan beragam berita negatif yang beredar di media massa maupun media sosial. Kondisi ini tidak hanya mempengaruhi opini masyarakat, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental, khususnya mahasiswa. Menurut Devie Yudianto, M.Psi., dosen Psikologi Unusia sekaligus Ketua Unit Pelayanan dan Pengembangan Psikologi (UP3) Unusia, paparan konten negatif berpotensi menimbulkan kecemasan, rasa tidak aman, hingga menurunkan optimisme terhadap masa depan.
“Berita-berita pasca demo biasanya menampilkan sisi penuh kekerasan, seperti bentrokan atau kerusuhan. Hal ini membuat sebagian orang merasa cemas, tidak punya harapan, bahkan memikirkan masa depan yang suram,” jelasnya. Ia menambahkan, perempuan cenderung dua kali lebih rentan mengalami kecemasan dibanding laki-laki ketika terpapar konten negatif semacam ini.
Dampak jangka pendek dari kondisi tersebut, lanjut Devie, adalah timbulnya kekhawatiran massal mengenai situasi negara, pendidikan, hingga pekerjaan. Namun, ia menegaskan bahwa trauma jangka panjang umumnya hanya dialami mereka yang langsung terlibat atau menjadi korban kekerasan saat aksi berlangsung.
Sebagai bentuk respons, UP3 Unusia membuka layanan konseling gratis bagi mahasiswa maupun masyarakat yang terdampak isu negatif pasca demo. Program ini dibatasi untuk 15 orang pada tahap awal sebagai bentuk psychological first aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis.
“Tujuannya sederhana: memberikan rasa aman dan nyaman di tengah situasi yang penuh ketidakpastian. Ini sejalan dengan komitmen UP3 untuk menyediakan layanan psikologis, baik pro bono maupun berbayar,” ungkap Devie.
Hingga saat ini, jumlah pendaftar hampir mencapai kuota yang ditentukan. Peserta diprioritaskan bagi mereka yang menunjukkan urgensi tinggi, seperti gejala gangguan psikologis yang nyata.
Devie menekankan bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Oleh karena itu, ia mendorong mahasiswa dan masyarakat untuk lebih terbuka terhadap layanan psikologis, serta tidak segan berkonsultasi ke UP3 ketika merasa kewalahan menghadapi kondisi psikologisnya.
Sebagai unit resmi di bawah Unusia, UP3 berkomitmen menjadi pusat layanan psikologis yang mudah diakses oleh mahasiswa maupun masyarakat luas. Layanan ini mencakup asesmen, konseling, hingga pendampingan psikologis yang bersifat preventif maupun kuratif. Dengan adanya UP3, diharapkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental semakin meningkat, sekaligus menegaskan bahwa mencari bantuan profesional adalah langkah yang wajar dan perlu dilakukan.
Penulis: Anwariah Salsabila