Search

Urai Jejak Kolaborasi Perlawanan di Banten 1926, Eman Supriatna Gondol Doktor Islam Nusantara

Jakarta, 28 Mei 2025 – Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) kembali menggelar Ujian Terbuka Promosi Doktor. Kali ini, Eman Supriatna, kandidat doktor dari Program Studi Sejarah Peradaban Islam, mempresentasikan disertasinya yang berjudul "Ulama dan Komunis: Persatuan Melawan Kolonial Belanda di Banten Tahun 1926–1927".

Ujian terbuka ini diselenggarakan di Aula Jakoeb Oetama, Kampus Unusia Jakarta, pada pukul 13.00 – 15.00 WIB. Acara ini dihadiri oleh jajaran akademisi, mahasiswa, serta tamu undangan. Dewan penguji yang terlibat dalam sidang promosi doktor ini terdiri dari para akademisi terkemuka di bidangnya. Dr. Fariz Alnizar, M.Hum bertindak sebagai promotor, sementara Dr. Ahmad Su’adi, M.A., Hum menjadi co-promotor. Sidang dipimpin oleh Dr. Siti Nabilah, M.Pd sebagai ketua, dengan Dr. Ayatullah, M.Ud sebagai sekretaris. Dua penguji lainnya adalah Dr. Ginanjar Sya’ban, M.Hum dan Moh. Hasan Basri, M.A., Ph.D.

Disertasi ini mengangkat kisah kolaborasi yang jarang diungkap dalam sejarah Indonesia: bagaimana para ulama di Banten dan kelompok komunis bersatu dalam satu tujuan, yakni melawan kolonialisme Belanda. Dengan pendekatan teori gerakan sosial dan metodologi sejarah yang kuat, Eman menelusuri berbagai sumber primer dan sekunder, termasuk arsip kolonial, wawancara keturunan pelaku sejarah, serta kajian literatur dari para sejarawan terdahulu.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pemberontakan Banten tahun 1926 tidak bisa dilihat semata sebagai aksi komunis, tetapi sebagai bentuk gerakan sosial lintas ideologi yang melibatkan kiai, santri, jawara, dan rakyat kecil. Eman berargumen bahwa persamaan musuh dan penderitaan bersama menjadi titik temu antara dua arus ideologi yang selama ini dianggap bertentangan: Islam dan komunisme.

Ujian terbuka berlangsung dengan khidmat dan penuh apresiasi terhadap kedalaman riset yang dilakukan oleh Promovendus. Para penguji memberikan masukan kritis namun konstruktif, yang memperkaya pemahaman tentang dinamika lokal dalam perjuangan nasional.

Penelitian ini tidak hanya penting secara historiografis, tetapi juga membuka ruang baru dalam memahami Islam Nusantara. Yakni, bagaimana nilai-nilai keislaman lokal mampu bernegosiasi dengan kekuatan ideologi modern demi kemerdekaan bangsa. Disertasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi kajian-kajian sejarah kritis yang berbasis lokalitas, keberagaman, dan semangat pembebasan.


Penulis: Anwariah Salsabila