Search

Workers and Wives: Kajian Dosen Unusia tentang Perempuan Jawa di Ruang Domestik dan Publik

Peran perempuan Jawa dalam masyarakat terus mengalami perubahan seiring tuntutan ekonomi dan dinamika sosial. Namun perubahan tersebut tidak serta-merta menghapus nilai budaya. Hal inilah yang diungkap dalam riset dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Moh. Faiz Maulana, melalui artikel ilmiah berjudul "Workers and Wives: How Javanese Women Negotiate Their Public and Domestic Roles in Contemporary Indonesia" yang terbit di jurnal internasional Public Anthropologist (2025).

Melalui pendekatan etnografi, riset ini menyoroti kehidupan perempuan Jawa di Paciran, Lamongan, Jawa Timur, khususnya para perempuan yang bekerja sebagai pengupas daging kepiting (nguplik). Penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam aktivitas ekonomi publik tidak berarti meninggalkan tradisi, melainkan menegosiasikan ulang makna budaya Jawa dalam konteks kehidupan modern.

Dalam budaya Jawa, perempuan kerap dilekatkan dengan konsep konco wingking, yang secara tradisional dipahami sebagai “teman di belakang”, yakni perempuan yang berfokus pada ranah domestik—mengurus rumah, anak, dan keluarga. Namun dalam temuan riset ini, makna konco wingking tidak lagi terbatas pada ruang domestik semata.

Perempuan Jawa masa kini tetap menjalankan peran sebagai istri dan ibu, tetapi sekaligus aktif bekerja dan berkontribusi pada ekonomi keluarga. Aktivitas mergawe (bekerja) menjadi bagian penting dari peran perempuan, berdampingan dengan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Perempuan tidak meninggalkan tradisi, tetapi menggunakannya sebagai pijakan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman,” tulis Faiz Maulana dalam artikelnya.

Riset ini juga mengungkap bahwa perempuan pekerja nguplik memiliki peran signifikan dalam menopang ekonomi rumah tangga. Bahkan, dalam beberapa kasus, pendapatan perempuan justru lebih besar dibandingkan pendapatan suami. Meski demikian, kondisi ini tidak serta-merta memicu konflik peran dalam keluarga.

Sebaliknya, perempuan tetap dipandang sebagai penjaga harmoni rumah tangga, sekaligus pengambil keputusan penting terkait pendidikan anak, pengelolaan keuangan, dan kehidupan sosial keluarga. Rumah tidak lagi dipahami sebagai ruang pembatas, melainkan ruang strategis tempat perempuan menjalankan otoritas dan pengaruhnya.

Salah satu temuan penting dalam riset ini adalah munculnya pergeseran relasi gender dalam keluarga Jawa, dari konsep konco wingking menuju konco urip—pasangan hidup yang saling menopang. Relasi suami-istri tidak lagi sekadar hierarkis, tetapi lebih bersifat kolaboratif dan saling melengkapi.

Dalam konteks ini, perempuan tidak diposisikan sebagai pelengkap semata, melainkan sebagai mitra sejajar dalam membangun kehidupan keluarga dan ekonomi.

Penelitian ini menegaskan bahwa budaya Jawa bukanlah sistem yang kaku. Nilai-nilai seperti konco wingking justru menunjukkan sifat lentur dan adaptif, memungkinkan perempuan untuk berperan aktif di ruang publik tanpa kehilangan identitas kulturalnya.

Aktivitas nguplik menjadi contoh konkret bagaimana perempuan Jawa menjembatani kebutuhan ekonomi dengan nilai budaya. Fleksibilitas kerja memungkinkan mereka tetap menjalankan peran domestik sekaligus berkontribusi secara ekonomi.

Riset ini memperkuat posisi Unusia sebagai institusi akademik yang aktif menghasilkan kajian kritis tentang masyarakat, budaya, dan keadilan sosial, khususnya dalam isu perempuan dan ekonomi berbasis kearifan lokal. Melalui penelitian ini, Unusia mendorong pemahaman bahwa pemberdayaan perempuan tidak selalu identik dengan meninggalkan tradisi, tetapi dapat tumbuh dari dalam budaya itu sendiri.

Capaian ini menjadi bagian dari kontribusi akademik Unusia di tingkat internasional. Artikel lengkap dapat diakses melalui jurnal Public Anthropologist pada tautan berikut:

https://brill.com/view/journals/puan/7/1/article-p83_004.xml?srsltid=AfmBOooouY0ryTAxDqUcM53pNAaxDJSBerFe9SmWmDV1dJ6OzG_GINg4


Penulis: Anwariah Salsabila